PDF Print E-mail
Thursday, 23 May 2013 02:56

MINAT BACA DAN MUSIBAH BAGI GENERASI BANGSA

Oleh :

Drs. H. Lalu Syafi'i, MM

Kepala Dinas Dikpora Provinsi Nusa Tenggara Barat

 

kadis dikpora prov NTBRajin membaca banyak tahu, malas membaca sok tahu, ungkapan tersebut merupakan motto dari Komunitas Minat Baca Indonesia. Secara umum minat baca bangsa Indonesia, terutama anak-anak relatif rendah. Jika dibandingkan dengan minat baca para remaja di negara-negara berkembang lainnya. Pembudayaan minat baca belum merupakan sesuatu yang menjadi kebutuhan dan dianggap paling penting dalam kehidupan masyarakat. Padahal di sisi lain dikenal ungkapan bahwa membaca buku sama dengan membuka jendela dunia. Artinya maju mundurnya sebuah bangsa dapat diukur dari tingkat kemampuan membaca generasi mudanya.


Minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Indikator lemahnya minat baca tersebut dapat dilihat dari rasio perbandingan penduduk dengan jumlah surat kabar. Menurut data dari Komunitas Minat Baca Indonesia, perbandingan penduduk dan surat kabar di Indonesia sangat tidak sebanding. Berdasarkan pendataan terakhir pada tahun 1999, perbandingannya mencapai 1:43. Artinya ,jumlah penduduk mencapai 207 juta jiwa, sedangkan jumlah surat kabar hanya 4,8 juta. Begitu juga, berdasarkan hasil penelitian dari Lembaga Independen Dunia, pada tahun 2003 menunujukkan data yang sangat mencengangkan. Betapa rendahnya posisi negara kita yang telah merdeka selama 67 tahun dalam hal minat baca. Indonesia menempati posisi nomor urut 112 dari 175 negara jauh tertinggal dari negara Malaysia dan Singapura. Penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun 2012 dalam Indeks Daya Saing Global, Indonesia berada di urutan ke-50 di bawah Malaysia (peringkat 25), Brunai 28 dan Thailand 38. Di peringat 1 Swiss dan ke-2 Singapura.

Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi masa depan bangsa. Betapa lemahnya bangsa Indonesia jika tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan minat baca secara sistematis dan konstruktif. Bahkan fakta yang lebih memprihatinkan lagi yakni ada kecenderungan penduduk Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi dan radio ketimbang buku atau media baca lainnya. Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery) menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0).


Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan aktifitas membaca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%. Berdasarkan data dari Badan Pusat statistik (BPS), pada tahun 2006, tercatat penduduk dengan usia di atas 10 tahun yang menonton TV jumlahnya 85,86% dan yang membaca surat kabar 23,46%. Selanjutnya pada tahun 2009, penduduk yang menonton TV mencapai 90,27% dan membaca surat kabar 18,94%. Terakhir pada tahun 2012 menunjukkan, penduduk yang menonton TV berjumlah 91,68% dan yang membaca surat kabar berjumlah 17,66% (Sumber : Data BPS Tahun 2006).


Dari data tersebut, minat baca masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kemerosotan, bahkan membahayakan. Jika kejadian ini tidak segera diantisipasi, maka akan terjadi malapetaka yang sangat dahsyat bagi peletakan nilai-nilai karakter kemajuan generasi masa depan. Sedangkan di sisi lain, ditemukan fakta bahwa minat masyarakat terhadap budaya menonton semakin meningkat.


Menurut Sabarudin, Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia yang termuat pada Koran Republika terbitan 24 September 2004 menyatakan, bahwa kondisi Indonesia sangat membahayakan karena lemahnya minat baca masyarakat. Menurutnya saat ini masyarakat Indonesia sedang berada pada posisi masyarakat yang sulit menerima pembaharuan, karena kurang kritis dan kurang cerdas, akibat dari lemahnya budaya baca. Jika hal ini dibiarkan, maka diprediksi masyarakat akan berada pada kondisi masyarakat yang sok tahu, sulit menerima pendapat orang lain, dan memiliki daya nalar yang rendah serta struktur berpikir sistemik yang lemah pula.


Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menanamkan minat baca sejak anak-anak usia dini. Penanaman minat baca sejak usia dini bisa dilaksanakan di rumah maupun  di sekolah dan di masyarakat. Di sinilah peran pemerintah untuk membuat kebijakan yang mengarah pada penanaman nilai-nilai minat baca di seluruh lapisan masyarakat.


Ikhtiar lain yang dapat dilakukan adalah peletakan nilai dasar karakter budaya baca dimulai dari pembinaan di rumah tangga, dengan membiasakan anak bermain dengan buku, pembiasaan sikap akrab dengan buku. Orang tua harus menjadi teladan yang baik dalam hal membaca. Suasana rumah harus menggambarkan kondisi keluarga pecinta buku, dengan membuat perpustakaan mini. Begitu juga pada tingkat RT/RW perlu ada perpustakaan tingkat RT/RW yang mampu di akses oleh seluruh warga dengan mudah dan murah.


Peran yang tidak kalah pentingnya adalah peran dari berbagai elemen masyarakat seperti pegiat, relawan, tokoh masyarakat, pecinta buku, penulis dengan mengadakan berbagai kegiatan yang mengarah pada peningkatan dan pemberdayaan minat baca.


Ada beberapa pemikiran  yang diajukan dalam tulisan ini dan dapat menjadi acuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya budaya minat baca.

Pertama, jadikan membaca sebagai kebiasaan yang dilakukan tanpa henti mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali setiap hari.

Kedua, tanamkan keyakinan bahwa hanya dengan membaca akan dapat menumbuhkan kemampuan untuk berpikir kreatif, kritis, analitis dan imajinatif. Dengan membaca, maka akan mempunyai nilai lebih untuk membangun imjinasi, berkarya, dan kritis terhadap suatu keadaan. Tidak mudah menerima opini,  gagasan dari orang lain secara mentah, tanpa ada kajian secara ilmiah dan alasan akademis. Serta membiasakan diri memberi dan menerima argumen dari sumber tertulis.


Ketiga, harus disadari bahwa dengan membaca, seseorang akan mempunyai pemikiran, pandangan, wawasan dan pengalaman yang berbeda dengan orang lain yang tidak membaca. Orang yang gemar membaca cenderung mempunyai pemikiran yang bersifat solutif terhadap berbagai permasalahan yang dialaminya. Bandingkan dengan yang tidak gemar membaca, maka akan ada perbedaan dalam wawasan berpikir, cakrawala berargumen dan sikap memaknai konsep serta nilai - nilai keragaman.


Oleh karena itu, membudayakan membaca menjadi kewajiban bersama sebagai warga negara terutama bagi generasi muda bangsa. Jika hal ini terjadi, maka akan menjadikan bangsa Indonesia memiliki masa depan yang tangguh, cerdas, bermartabat dan mampu menghadapi tantangan zaman.


Peran sekolah menjadi penting dan strategis. Sekolah adalah dunia formal pertama yang dihadapi oleh peserta didik untuk mendapatkan inovasi dalam hal penanaman nilai-nilai minat baca. Sampai saat ini, di sekolah belum tergambar bagaimana sistem penanaman nilai minat baca yang terstruktur dan terukur. Begitu juga dengan sistem penilaian terhadap minat baca siswa secara konkret belum terstandar di sekolah. Saat ini setiap sekolah memiliki cara yang berbeda dalam hal penanaman minat baca, sangat tergantung dari kreatifitas guru dan Kepala Sekolahnya. Kedepan hal ini tidak boleh terjadi, pemerintah harus menetapkan kebijakan dan komitmen dengan payung hukum yang kuat seperti Undang-undang, Keputusan Presiden atau Peraturan Daerah di setiap daerah untuk dijadikan panduan oleh sekolah dan guru dalam hal penanaman nilai-nilai minat baca secara terpadu, holistik dan memiliki daya ungkit yang kuat untuk menumbuhkan minat baca siswa.


Menurut Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet, Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia memandang, saat ini sekolah belum optimal sebagai tempat untuk menumbuhkan minat baca anak didik. Hal ini, menurut dia, tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat membuat siswa tidak punya waktu untuk membaca. Belum lagi harus mengerjakan PR.(Republika, 24 Desember 2007).

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penanaman budaya minat baca akan dapat terbangun dengan baik jika ada komitmen yang sungguh-sungguh dari pengambil kebijakan. Budaya membaca dapat ditanamkan mulai dari rumah tangga, sekolah dan masyarakat.(pan@wan)

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Thursday, 23 May 2013 03:02
 
© 20011BALAI TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN |BTKP@goV
.... KUIS KIHAJAR TK NASIONAL TGL 6-9 NOVEMBER DI JAKARTA ....
.:[Close]2x:.