Wednesday, 23 January 2013 00:12

MENGAPA KURIKULUM PENDIDIKAN HARUS BERGANTI . . ?

Oleh

Drs. H. Lalu Syafi’I, MM

Kepala Dinas Dikpora Provinsi NTB



Tentu kita sepakat, bahwa pendidikan adalah sistem rekayasa social yang paling bermartabat. Mengapa?. Karena berbicara pendidikan berarti berbicara peradaban dan masa depan bangsa. Itulah sebabnya tema pendidikan menjadi satu-satunya tema yang selalu hangat dan tidak pernah selesai didiskusikan. Setidak – tidaknya ada 3 alasan mengapa pendidikan menjadi sangat penting. Pertama, memiliki perspektif yang luas. Kedua, memanusiakan manusia. Dan ketiga, mampu membentuk peradaban bangsa.


Dalam kerangka mewujudkan alasan tersebut. Setidaknya dua hal yang paling mendasar dalam perspektif peningkatan mutu pendidikan adalah komponen kurikulum dan pendidik. Kurikulum bersifat dinamis dan kehadirannya sebagai jembatan untuk menjawab kebutuhan hidup masyarakat pada zamannya.


Jika kita mengurai kilas balik, perjalanan kurikulum di Indonesia terdapat beberapa fase perubahan. Pertama, kurikulum 1945 yang berlaku pada saat negara baru berdiri. Kurikulum tersebut sarat dengan penguasaan isi pelajaran yang belum berstruktur. Dua tahun kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 1947 yang berciri rencana pelajaran lebih terperinci dan menguraikan tujuan pembelajaran.


Setelah mengalami berbagai macam problematika dan fenomena politik bangsa, maka pada tahun 1964 ditetapkan kurikulum baru yang memuat rencana pendidikan khusus Sekolah Dasar, yang kemudian direvisi dan disempurnakan menjadi sebuah kurikulum yang disebut dengan kurikulum 1968. Dalam fase 1945 sampai kurikulum 1968, sistem pengajarannya bertumpu pada penguasaan materi, aspek pengembangan kreatifitas peserta didik kurang terbangun dan pendidik terlalu dominan dalam proses pengajaran. Akhirnya pada tahun 1973 diperkenalkan kurikulum proyek rintisan pembangunan (PPSP) yang disempurnakan menjadi kurikulum 1975. Lambat laun pergeseran paradigma  sistem pengajaran mengalami pergeseran. Dan semakin disadari bahwa proses belajar mengajar tidaklah semata-mata hanya memberitahu dari tidak tahu menjadi tahu, tapi dirasakan bahwa yang lebih penting adalah bagaimana memberikan pendidikan yang baik kepada peserta didik dengan lebih melibatkan peran peserta didik dalam pembelajaran. Itulah sebabnya maka pada tahun 1984 ditetapkan kurikulum 1984 yang telah mulai menerapkan pembelajaran peserta didik aktif dalam proses pembelajaran, dengan mengadopsi berbagai pendekatan pola pembelajaran dari negara-negara maju. Sejak saat itu pola pembelajaran konvensional sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.


Proses pendidikan yang pada mulanya sentralistik, pelan dan pasti telah memberikan ruang lebih besar kepada peserta didik untuk dominan dan berperan aktif dalam pembelajaran. Peran pendidik hanya bersifat memfasilitasi. Sepuluh tahun kemudian kurikulum tersebut disempurnakan kembali menjadi kurikulum 1994.


Pada tahun 2004, di Indonesia mulai diperkenalkan kurikulum berbasis kompetensi, yang memuat berbagai kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, mulai dari tingkatan pendidikan dasar sampai menengah atas dan kejuruan. Dua tahun kemudia kurikulum tahun 2004 mengalami penyempurnaan menjadi kurikulum tahun 2006 yang lebih dikenal dengan kurikulum KTSP. Kurikulum tingkat satuan pendidikan hadir dengan  memberikan keluasan dan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menentukan kurikulumnya sendiri dengan bertumpu pada kompetensi yang telah ditetapkan.


Zaman pun mengalami perubahan yang sungguh cepat, sehingga semakin disadari, bahwa masalah besar yang menimpa bangsa ini adalah krisis moral, krisis peradaban, krisis rasa kebangsaan dan krisis multidimensi bidang kehidupan bermasyarakat. Untuk itu harus dihadirkan sebuah kurikulum yang tidak hanya menuntut peserta didik memiliki kompetensi, tetapi mampu mencetak generasi bangsa yang beriman dan bertaqwa, berakhlakul karimah, berbudi pekerti luhur, terampil, sehat jasmani rohani, berwawasan kebangsaan, berpengetahuan, mampu hidup bersama secara damai, menerima dan menghargai perbedaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai amanat Undang – undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3.


Ada perbedaan pendekatan yang menonjol, antara kurikulum tahun 2013 dengan kurikulum sebelumnya yakni terletak pada sistem pembelajaran. Ciri utama pembelajarannya adalah enjoy learning, bermain, observasi, beribadah, collaborative learning, dengan filosofi penanaman nilai-nilai kejujuran, keihklasan, pola hidup bersih dan kedisiplinan. Mengapa demikian ?. Jawabnya, karena manusia Indonesia yang diharapkan pada abad 21 adalah manusia yang jujur.


Permasalahan bangsa yang utama saat ini adalah ketidakjujuran. Semua permasalahan social, seperti kemiskinan, keterbelakangan, perkelahian, semangat kebangsaan yang rapuh, ketidakpercayaan antar sesama, semuanya disebabkan oleh pudarnya nilai-nilai kejujuran. Mengapa nilai kejujuran harus terbangun?. Karena pada saatnya nanti bangsa Indonesia akan menjadi negara besar, yang mampu bersaing dan unggul di bidang ekonomi, teknologi, politik, budaya dan peradaban. Saat ini saja, Indonesia telah berada pada posisi 16 besar di bidang ekonomi.


Perbandingan jumlah penduduk usia produktif, 30 tahun mendatang Indonesia akan menjadi negara yang memiliki jumlah penduduk usia produktif terbesar di dunia, itulah sebabnya kita harus menyiapkan generasi menjadi asset bangsa, manakala bangsa-bangsa lain sudah tidak memiliki lagi penduduk usia produktif.


Saat ini, China, Jepang dan negara-negara maju lainnya didunia memiliki penduduk produktif yang sudah berusia di atas 30 tahun, yang pada saatnya nanti akan habis. Sementara penduduk produktif usia muda sangat minim. Itulah sebabnya konsep pendidikan di Indonesia adalah menyiapkan generasi muda bangsa yang mampu bersaing pada zamannya, memiliki rasa kebangsaan yang tinggi, pribadi tangguh, unggul disegala bidang untuk mengisi berbagai sektor bidang keahlian di semua negara.


Berangkat dari pemikiran tersebut, suka atau tidak suka, maka kurikulum tahun 2013 harus mengacu untuk menjawab tantangan pada abad 21 yakni dapat menghasilkan insan Indonesia yang cerdas, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi secara jelas. Diakui juga dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan pada abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Pergeseran paradigma pembelajaran pada abad 21 dengan ciri : pertama, informasi tersedia dimana saja dan kapan saja, maka sistem pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu. Kedua, komputasi (lebih cepat memakai mesin), maka pembelajaran yang tepat diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), sehingga peserta didik tidak hanya mampu menyelesaikan masalah dengan menjawab saja. Ketiga, dengan otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin) dan model pembelajarannya diarahkan untuk melatih peserta didik berpikir analitis (mengambil keputusan) dan bukan berpikir mekanistis (rutin). Serta ciri yang terakhir, berkomunikasi kemana saja, dari mana saja, mudah dan cepat, maka model pembelajaran yang dikembangkan adalah pembelajaran yang menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam penyelesaian masalah.


Pembelajaran di Sekolah Dasar menekankan pada penanaman karakter dasar (kejujuran), pengenalan diri, pengenalan lingkungan, pengenalan nilai-nilai kearifan lokal, cinta tanah air, dengan prinsip menyenangkan dan mengesankan. Kurikulum tahun 2013 menekankan aspek filosofi yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, serta kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi. Sedangkan materi pembelajaran yang berat, seperti rumus-rumus ilmu terapan tidak diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar. Peserta didik Sekolah Dasar tidak lagi harus membawa tas berat yang berisi banyak buku pelajaran, cukup beberapa buku saja, namun memuat berbagai macam mata pelajaran karena mata pelajaran pada jenjang Sekolah Dasar menggunakan pembelajaran tematik.


Mata pelajaran IPA dan IPS tidak lagi disebut sebagai mata pelajaran. Tetapi nilai-nilai pembelajarannya masuk dalam tematik pembelajaran.  Mata pelajaran IPA dan IPS di Sekolah Dasar diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Pengintegrasian ini dilakukan karena penting, serta menyesuaikan zaman yang terus mengalami perkembangan pesat.


Hadirnya kurikulum baru bukan berarti kurikulum lama tidak bagus, melainkan kurikulum tahun 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap didalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum ini disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa mendatang.


Ciri yang paling menonjol pada kurikulum tahun 2013 adalah penambahan jam belajar yang dilakukan secara rasionalitas bahwa perubahan proses pembelajaran (dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu) dan proses penilaian (dari berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output menjadi berbasis kemampuan melalui penilaian proses dan output) memerlukan penambahan jam pelajaran.


Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Di samping itu, pengalaman membuktikan bahwa satuan pendidikan yang menerapkan full day learning lebih baik hasil pendidikannya. Indonesia yang tergolong sebagai negara berkembang menerapkan jumlah jam pembelajaran lebih singkat dari pada negara-negara maju lainnya.


Penambahan jam belajar bukan berarti peserta didik akan dijejali dengan pelajaran sepanjang hari, tetapi jam belajar diisi dengan berbagai kegiatan yang bersifat rekreatif (bermain, beribadah, berolahraga, berkesenian). Tidak lain harapannya adalah agar tumbuh peserta didik menjadi generasi muda yang tangguh, disiplin, jujur, rajin beribadah, kreatif, inovatif, optimis, bekerja keras, cinta tanah air, dan selalu menghargai perbedaan. Semoga kita lebih siap. Amin !!

Last Updated on Tuesday, 29 January 2013 02:48
 

INFORMASI PENDIDIKAN

data pendidikan

SELENGKAPNYA BISA DI DOWNLOAD DI BAWAH INI.......

.download dengan format  .pdf

download data pendidikan

 

 


 

 

 

 

download dengan format ebook  file  .chm

download format chm

 

23 ORANG SISWA SMK  MELAKSANAKAN PRAKERIN

 


(BTKP).  Sebanyak 23 (dua puluh tiga ) orang siswa dan siswi dari SMK Negeri 1 Lingsar Kabupaten Lombok Barat dan SMK Negeri 1 Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat, berkesempatan untuk menimba ilmu pengetahuannya selama kurang lebih tiga bulan bertempat  di Pusat Sumber Belajar (PSB) Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan Dinas Dikpora Provinsi Nusa Tenggara Barat,  yang  dimulai awal bulan Januari hingga April 2013 mendatang.


Indra Wardana guru Pembimbing  dari SMK Negeri 1 Lingsar Lombok Barat, bahwa dilaksanakannya prakerin  di Dunia Industri dan Dunia Usaha adalah merupakan kegiatan rutin yang harus diikuti oleh setiap siswa pada semester empat kelas XI  jurusan Multimedia , hal ini bertujuan menghasilkan atau mencetak siswa SMK menjadi tenaga kerja yang memiliki keakhlian profesional yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan antara yang dipelajari di sekolah dengan pengalaman yang ada dilapangan serta meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas , jelas Indra.


Sementara Azmi guru pembimbing dari SMK Negeri 1 Seteluk Sumbawa Barat  bertujuan membina kerjasama dengan lembaga pemerintah atau swasta untuk mewujudkan SMK sebagai sentral pembangunan sember daya manusia yang memiliki komitmen dan tanggungjawab tinggi terhadap perkembangan zaman khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat.


Ni Nyoma Wendri siswi SMK Negeri 1 Lingsar, pada minggu pertama mengakui dalam  Prakerin  materi yang diperoleh dari Tutor seperti megetik sepuluh jari  sangat menunjang ketererampilan mengetik, dan di sekolahnya  sudah memperoleh teori namun praktek secara langsung seperti ini  belum terlaksana alasannya infrastruktur  seperti komputer di lab sangat terbatas  sehingga satu komputer untuk berdua, komputer  banyak yang rusak, ungkap Nyoman.


Pada bagian lain Ani Andriani  siswi dari SMK Negeri 1 Seteluk, mengungkapkan hal yang sama komputernya sebagian besar tidak bisa dipergunakan karena rusak ringan. Ani  ketika melaksanakan praktek di lab komputer merasa risih karena  dalam melakukan  praktek  tersebut hanya satu jam dalam satu kali praktek perminggu, jelas Ani.


Bagi siswa/wi yang melaksanakan prakerin di Balai ini diberikan  materi oleh Tim (Tutor)  antara lain  mengetik sepuluh jari, merakit PC, Microsoft office, Jaringan komputer seperti membuat jaringan LAN, WLAN, multimedia seperti photoshop, corel draw, editing video dan desain web (pola 600 jam).  Pan@wan/Heny

 

MENDIDIK JIWA ENTREPRENEURSHIP DI KALANGAN GENERASI MUDA


Oleh :

Drs. H.Lalu Syafi’i, MM

Kepala Dinas Dikpora Provinsi NTB

 


Individu yang berjiwa entrepreneur (wirausaha atau usahawan) diidentikkan dengan individu yang berpikir out of the box. Dialah manusia yang siap berlari kencang ketika kesempatan datang. Berkat daya listrik dalam dirinya, dia selalu berkata pada dirinya sendiri: “Saya bisa!” Kira-kira gambaran idealnya seperti Ir. Ciputra, entrepreneur yang mulai berwirausaha menjelang remaja, kini menjelma menjadi salah satu wirausaha sukses Indonesia, yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas.


Berititik tolak dari hal di atas maka, jiwa entrepreneurs bukan semata-mata ditafsirkan secara sederhana oleh sebagian orang yakni jiwa dagang, yang tujuan akhirnya semata-mata UUD atau “Ujung-Ujungnya Duit”. Tapi yang benar adalah jiwa entrepreneur identik dengan daya kreativitas, berfikir positif, bersemangat tinggi, tidak cepat mengeluh, dan tidak mudah menyerah pada keadaan,  serta memiliki produktivitas konstruktif, sehingga senatiasa berpikir inovatif untuk mendapatkan income yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.


Jika  di amati kehidupan kaum muda di sekitar kita dalam struktur demografi Indonesia maka dapat ditemui bahwa sebagian besar dari jumlah penduduk di Negara ini, tampak bahwa jiwa entrepreneurship-nya belum sesuai dengan harapan. Jika dibandingkan dengan Negara Singapura yang jauh lebih tinggi. Negara jiran itu, menurut Global Enterpreneurship Monitor (GEM), tahun 2005 saja 7,2 % entrepreneur dari jumlah penduduk. Sesuatu yang naïf bila kita menemukan pemuda usia muda di  Amerika Serikat masih belum mendapat pekerjaan yang memadai. Menurut data pada tahun 2007, Amerika Serikat telah memiliki 11,5 % entrepreneur. Melihat angka tersebut tak mengherankan kalau milyuner muda bermunculan setiap tahun di Amerika Serikat. Sebut saja misalnya Mark Zuckerberg (Pendiri Facebook) dan Dustin Moskovitz (Entrepreneur), yang usianya masih relatif muda tapi mampu menjadi salah satu orang terkaya di dunia versi majalah Forbes. Kekayaanya mencapai 6,9 Milyar Dollar AS.


Indonesia hanya memiliki sekitar 400.000 pelaku usaha mandiri, atau  0,8% dari populasi. Idealnya Indonesia saat ini membutuhkan 5 juta orang wirausaha atau sekitar 2%  dari jumlah populasi penduduk sebanyak 237, 6 juta orang.

Yang mencengangkan terdapat 10% kaum muda Singapura berjiwa entrepreneur. Adapun kaum muda kita hanya 0,05%. Padahal menurut David Mc Clelland, suatu Negara akan menjadi makmur apabila memiliki entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk.


Melihat rendahnya jiwa wirausaha kaum muda bisa dimengerti kalau daya saing Negara kita sangat rendah. Tak berlebihan kalau sejumlah kalangan seperti A. Ferry T Indratno, direktur Dinamika Edukasi Dasar, Yogyakarta mengatakan bahwa tingginya pengangguran dan rendahnya kesejahteraan di Indonesia dipengaruhi oleh kecilnya jumlah entrepreneur.


Secara etimologis entrepreneur berasal dari bahasa Perancis, entre (antara) dan prendre (mengambil), yang dipakai untuk menggambarkan orang yang berani mengambil resiko dan memulai yang baru (Serian Wijatno, Pengantar Entrepreneur, Jakarta: 2009).


Jadi, jelaslah membangun jiwa entrepreneurship berarti mengajak setiap individu untuk melihat dirinya sebagai pribadi sukses. Potensi sukses tersebut bersemayam dalam diri tiap orang, bisa di eksplorasi, untuk melipatgandakan kekuatannya. Artinya, jika ada kemauan, tiap individu bisa menemukan potensi tersebut karena memang itu merupakan sebuah anugerah, tersedia dengan gratis. Maka jelaslah, semakin strategislah fungsi dan peran pendidikan. Artinya jiwa entrepreneur bisa di desain, bisa dipelajari, bisa dengan bimbingan dan bisa juga dengan pendampingan.


Dalam satu kesempatan berbicara di hadapan forum pemuda di Mataram baru-baru ini saya mencoba mengusik jiwa entrepreneurship sekelompok pemuda dalam acara Sosialisasi Program Relawan Muda, sembari mengangkat HP, saya katakan pada mereka, “Siapa yang ingin memiliki HP saya ini?”. Sepuluh orang mengangkat tangan menyatakan berminat memilkinya, padahal saya yakin semua yang ada di ruangan tersebut berminat memiliki HP saya. Ketika saya minta mereka maju, tiga diantaranya melangkah pasti ke depan. Dengan bersemangat mengemukakan argumentasi mengapa mereka menginginkan  HP tersebut. Dari ketiga pemuda tersebut, mereka melakukan ikhtiar dan persaingan, sehingga saya harus memilih satu diantaranya yang akan mendapatkan HP. Saya harus menetapkan satu pemenang dengan melihat penampilan, gaya bicara,  kesantunan pribadi, empati dan semangat juang yang mereka tunjukan.


Akhirnya satu orang yang tersisa, pada babak akhir, sebelum HP saya serahkan, saya meminta untuk mengajukan satu pertanyaan lagi. Jika bisa dijawab dengan baik maka HP tersebut akan menjadi miliknya. Ternyata pertanyaan saya yang terakhir tidak mampu di jawab dengan baik. Itulah rentetan sebuah ikhtiar, kalau sudah berupaya maksimal, dan tidak berhasil, maka itulah yang disebut dengan takdir. Saya menyebutnya sebagai ikhtiar yang belum optimal. Yang menarik, diantara ketiga peserta, telah menunjukkan kemampuan bersaing dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Dengan kemampuan yang dimiliki, dikerahkannya untuk menjadi pemenang, tidak mudah menyerah, percaya diri dan itulah sesungguhnya inti dari jiwa entrepreneurship tersebut.


Kata para pakar untuk menghasilkan wirausaha yang handal, butuh 3L yaitu Lahir, Lingkungan dan Latihan. Karena itu CEO Kauffman Foudation dari Amerika Serikat Carl J. Schramm berkata kewirausahaan bukan sekedar diajarkan, pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah-sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada partumbuhan ekonomi.


Membentuk jiwa entrepreneur pada siswa memang bukan pekerjaan mudah. Lingkungan kita menjadi salah satu penghambatnya. Dalam keseharian, misalnya kita kerap bangga jika anak kita bisa membeli pisang goring atau permen dengan uang jajannya. Sebaliknya kita merasa biasa-biasa saja jika dia mampu menjual pisang goreng atau permen dan jarang kita hargai serta kita sanjung jika mendapatkan keuntungan. Tanpa kita sadari, tindakan tersebut secara halus sedang mematikan jiwa entrepreneur.


Tak jarang, banyak orang yang mematikan jiwa wirausaha dalam dirinya. Alasannya klise dan kurang tepat yakni tidak berbakat.


Adakah jalan keluar dari masalah tersebut? Tak lain adalah mengubah paradigma pendidikan. Selama ini sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya fokus kepada penanaman nilai entrepreneur secara praktis dan aplikatif di setiap sekolah. Ambil saja contoh pendidikan di SMK yang pada dasarnya diharapkan menyiapkan lulusan yang berjiwa entrepreneur.   Apalagi di SMK terdapat jurusan seperti tata niaga, koperasi, perbankan dan lain-lain, yang lulusannya diharapkan mampu bersaing di pasar kerja.


Fakta menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh belum sesuai harapan. Ratusan bahkan ribuan lulusan SMK jurusan tata niaga lulus dengan nilai yang bagus tapi hanya segelintir siswa yang mampu menjadi pelaku wirausaha atau entrepreneur di lingkungan masyarakat.


Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena selama proses pendidikan, penanaman nilai-nilai entrepreneurship, sebatas penguasaan materi tapi secara praktik dilapangan kurang diprogramkan secara sistematis melalui tugas-tugas yang aplikatif dalam kehidupannya. Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan yang diperoleh  dengan penanaman tentan nilai – nilai kewirausahaan.


Untuk membangkitkan jiwa entrepreneur di kalangan siswa peranan kepala sekolah sangatlah strategis. Kepala sekolah bisa memberikan penghargaan pada siswa, yang dalam proses pendidikannya mampu melakukan aktivitas usaha secara mandiri. Misalnya siswa dianggap berprestasi apabila mampu menjual sabun sekian buah atau sekian dus, buku, odol, bahkan beras milik koperasi sekolah dalam satu semester. Kepala sekolah mesti memberikan reward bebas SPP kepada siswa yang mampu menjual barang kebutuhan pokok melampaui target. Mestinya Kepala Sekolah mengukur prestasi siswa dari sejauhmana mampu menciptakan pasar, bukan hanya nilai akademik.


Filosofinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk  sosial para siswa tentu berinteraksi dengan kerabat, teman, saudara, handai taulan. Mereka itu sudah pasti memerlukan bahan kebutuhan pokok tersebut. Di sinilah jiwa entrepreneur siswa dibangun. Mereka dikatakan sukses apabila mampu membangun kepercayaan dirinya melalui wirausaha. Bukan semata-mata siswa yang berhasil diukur dari ranah akademik.


Guru dan Kepala Sekolah sejatinya memiliki jiwa entrepreneur sehingga dalam setiap kebijakanya selalu berpihak kepada pembangunan jiwa entrepreneurship.Dengan begitu, jiwa wirausaha akan mampu menjawab masalah bangsa, seperti kata J. Schramm membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri.

 
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next > End >>

Page 19 of 50
© 20011BALAI TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN |BTKP@goV
.... KUIS KIHAJAR TK NASIONAL TGL 6-9 NOVEMBER DI JAKARTA ....
.:[Close]2x:.