Wednesday, 23 January 2013 00:36

PENGHUNI SURGA


Oleh : Drs. H.Lalu Syafi'i, MM

Anakmu, bukan milikmu

Mereka putra putri sang hidup

Lewat engkau mereka lahir

Namun tidak dari engkau

Mereka ada padamu, tapi bukan milikmu

Berikan mereka kasih sayangmu

Tapi jangan pikiranmu

Sebab mereka memiliki pikiran sendiri

Patut kau berikan rumah untuk raganya

Tapi bukan untuk jiwanya

Kau boleh menyerupai mereka

Tapi jangan buat mereka menyerupaimu


........Khalil Gibran.........


Mengapresiasi isi kutipan puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa anak adalah titipan Sang Khalik kepada hamba-Nya untuk dibesarkan melalui kasih sayang. Anak adalah makhluk unik yang rindu pada dirinya. Ia adalah jelmaan dari jiwa yang haus kasih sayang. Karena keunikannya tersebut, maka tingkahnya sulit dirasionalkan. Ia akan menjelma menjadi jiwa yang utuh manakala kehalusan budinya disentuh dengan kesabaran, ketulusan, keteduhan jiwa dan lemah lembutnya belaian kasih sayang.


Seorang guru dan penulis buku yang amat kesohor dari Amerika, Torey Hyden. Ia adalah sosok seorang guru yang sangat mencintai profesinya, sabar, tidak pernah mengeluh, dan selalu bersemangat menjalankan tugasnya. Torey Hyden pernah menulis pengalamannya mengajar di daerah pedalaman Amerika, ia memiliki murid yang mengalami permasalahan psikis. Dalam waktu yang singkat, murid-murid yang mengalami permasalahan kejiwaan mampu membangun semangat dan harga diri sehingga menjadi anak yang tumbuh kreatif. Kunci utamanya adalah kasih sayang yang tak terputus. Seperti zat Allah SWT yang Maha Kasih dan Maha Penyayang, tak mengherankan bila Al Quran dari awal hingga akhir dihiasi dengan kata  "Rahman dan Rahim".


Problem apapun yang dialami sang anak, jika didekati dengan kesabaran dan kasih sayang maka permasalahan akan terselesaikan. Jika seorang anak menjadi usil, itulah keunikannya, jika anak membuat sebuah kegaduhan, itulah kelucuannya, jika anak mencari perhatian itulah karakternya, jika anak senang mengganggu temannya, itulah cirinya, jika anak rewel itulah khasnya dan jika anak agresif itulah yang harus terus disemangati.


Yang paling penting untuk dicatat adalah pola pikir anak tidak akan pernah sama dengan pola pikir orang dewasa. Manakala ada pemaksaan pikiran orang dewasa kepada pikiran anak-anak, itu sama artinya dengan merampas hak hidup anak. Betapapun nakalnya, malasnya, manjanya, bodohnya, over acting-nya, ia akan bisa menjadi anak yang baik apabila disemai dan diayomi dengan kasih sayang.


Kasih sayang yang dimaksud menyangkut semua dimensi kehidupan. Kasih sayang dalam keluarga, kasih sayang dengan komunitasnya, kasih sayang dengan lingkungan, kasih sayang dengan binatang dan alam sekitar. Ada contoh menarik di beberapa Sekolah PAUD di Australia. Konsep kasih sayang sangat terasa, termasuk kasih sayang dengan binatang. Setiap kelas dipenuhi dengan berbagai macam miniatur hewan seperti ular, harimmau, kanguru dan binatang buas lainnya. Anak dibiasakan bermain dengan binatang-binatang tersebut. Penanaman nilai yang ditanamkan adalah kesadaran akan hak-hak hidup dalam kebersamaan. Semua makhluk di dunia ini, hidup atas kasih sayang. Sebuas apapun binatang jika didekati dengan sentuhan kasih sayang, ia akan jinak dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Berbeda dengan konsep pendidikan anak-anak kita, jika melihat ular maka spontan mencari kayu dan batu untuk membunuh ular tersebut. Betapa sadisnya konsep pendidikan yang kita terapkan di negara ini .


Masih banyak dijumpai dalam masyarakat, bahwa  ada orang tua yang membesarkan anak dengan pikirannya, bukan kasih sayangnya. Mengapa ?. Karena masih ada sebagian orang tua yang belum mampu membedakan pikiran dan perkembangan jiwa serta emosi  anak dengan pikiran orang dewasa. Seolah-olah pikiran orang tua dengan anak-anaknya sama. Padahal seorang anak memiliki alam pikiran sendiri, perasaan sendiri dengan karakteristik keunikan. Dan keunikan itulah yang harus dipahami, dimengerti, dipelajari oleh setiap orang tua dan Guru.


Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring denga laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletakan dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.


Menurut Netty Prasetyani (Republika online, 7 April 2012), masa kanak-kanak atau sering disebut masa usia dini adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai kearifan pada anak.Karena jika masa keemasan ini dilewatkan begitu saja akan merugikan masa depan seorang anak. Kepekaan seorang anak untuk merespon nilai-nilai kehidupan adalah dengan bermain dan pengembangan imajinasi. Itulah sebabnya dunia anak populer dengan dunia bermain dan  bermain merupakan kebutuhan utama dalam pengembangan karakteristik anak.
Pendidikan anak usia dini merupakan suatu pendidikan yang dilakukan pada anak sejak lahir hingga usia delapan tahun. Pemahaman terhadap perkembangan anak adalah faktor penting yang harus dimiliki orang tua dalam rangka optimalisasi potensi anak. Beberapa pemerhati pendidikan seperti Catron dan Allen pernah menyebutkan bahwa terdapat enam aspek perkembangan anak usia dini, yaitu kesadaran personal, kesehatan, emosional, sosialisasi, komunikasi, kognisi dan keterampilan motorik, yang didapat melalui kegiatan bermain serta pengembangan daya imajinasi.


Menurut penelitian para ahli Carnegie Corporation (Jalongo, 2007) menyatakan bahwa perkembangan fungsi otak lebih cepat dan luas sepanjang tahun pertama kehidupan anak, jadi lingkungan yang tidak cocok akan sangat merugikan anak.  Hayes & Ahrens (Jalongo, 2007) juga mengatakan bahwa seorang anak telah menguasai beberapa ribu atau kurang lebih 90% kata-kata dari percakapan yang didengar secara teratur. Bahkan ada keajaiban yang luar biasa terjadi di beberapa tempat. Sebut saja contohnya yang sedang heboh dewasa ini, Farid Abdurrahman berasal dari Kairo Mesir berusia 3 tahun telah mampu menghafal 30 Juz dalam Al-Quran.


Potensi anak usia dini dapat terwujud jika orang tua sangat peduli terhadap perkembangan anaknya dan anak bisa diberi kebebasan untuk dapat mengembangkan bakat atau potensi yang dimilikinya. Berdasarkan pada prinsip perkembangan anak, maka pendidikan anak usia dini harus berdasarkan pada kebutuhan anak, yang disesuaikan dengan nilai-nilai kearifan dalam masyarakat. Dan nilai-nilai kearifan tersebutlah yang akan membentuk karakter anak sejak dini. Seorang anak akan begitu mudah mencontoh prilaku orang tuanya. Jika orang tua pemarah, maka anak akan menjadi pemarah, jika orang tua perokok, maka anak akan berpotensi menjadi perokok. Jika orang tua sering membohongi anaknya, maka anak akan menjadi seorang pembohong.


Masa depan anak sangat bergantung dari peletakan karakter pada usia dini. Itulah sebabnya maka orang tua dan guru  memilik peran yang sangat strategis dalam berkontribusi menanamkan karakter yang baik kepada anak. Setiap orang tua dan guru harus memahami hak-hak anak serta karakteristik anak. Salah satu sifat orang tua dan guru yang paling fatal adalah sifat pemarah. Karena sifat pemarah dapat membunuh karakter anak. Tidak ada konsep marah dalam mendidik anak, yang ada hanya memberikan motivasi, mencari solusi dan mengarahkan dengan pendampingan. Jika ada orang tua atau guru yang masih marah dalam mendidik anak, itu berarti ia belum siap sebagai orang tua dan belum siap menjadi guru.


Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam merusak pikiran anak adalah sikap kesal. Orang tua setiap saat tidak dibenarkan menunjukkan kekesalan dan penyesalan setiap berhadapan dengan anak dalam kondisi apapun, karena kekesalan dan penyesalan pasti akan menimbulkan kebencian. Hak anak adalah bermain dan kesempatan bermain harus diberikan seluas-luasnya, namun dengan catatan harus ada pendampingan, misalnya anak sering bertanya tentang fenomena alam yang terjadi, mengapa langit itu diatas ?. Mengapa jika berjalan matahari pun seolah-olah ikut berjalan ?. Mengapa air mengalir ke hilir ?. Pertanyaan jenius seperti itu harus terus ditumbuhkan, dengan cara memberikan jawaban yang benar dan sesuai dengan kenyataan alam pikirannya. Akan tetapi jika anak-anak mendapat jawaban yang tidak benar  dan tidak sesuai dengan alam pikirannya, maka dapat membunuh kreatifitas serta daya hayal mereka. Begitu pula jika anak menonton televisi harus dengan pendampingan orang tua agar terjadi proses pemahaman konsep dengan benar, manakala anak menanyakan sesuatu terhadap tayangan televisi yang sedang ditontonnya. Jika anak dibiarkan menonton sendiri tanpa pendampingan maka akan berimplikasi kepada hal-hal negatif terhadap penanaman nilai dalam pemikiran anak. Bahaya yang muncul adalah anak sering meniru adegan-adegan yang ditontonnya, karena anak memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan dan rasa ingin mencoba sesuatu yang baru, itulah sebabnya banyak kasus terjadi pada penyimpangan prilaku anak seperti berkata kasar, menyakiti temannya, dan prilaku penyimpangan lainnya.


Hak berikutnya adalah mengembangkan daya hayal seluas-luasnya. Mengembangkan daya hayal pada usia  dini dapat membangun jiwa inovasi yang tinggi. Daya hayal yang kuat menjadikan anak tumbuh kreatifitasnya. Itulah sebabnya maka anak-anak perlu disentuh dengan dongeng-dongeng yang didalamnya berisi penanaman karakter kebaikan dan keburukan, kejahatan dan kesantunan, keserakahan dan kesabaran. Intinya,  pikiran anak harus dibawa ke alam imajinasi. Dan di situlah ditanamkan konsep kemenangan dan kekalahan. Kebaikan selalu dapat mengalahkan keburukan, kejujuran selalu menang atas keserakahan, dan kerendahan hati pasti menang melawan kesombongan. Mengapa?. Karena kepekaan anak terhadap fenomena alam sering menimbulkan tanda tanya besar yang jawabannya harus diterima dengan alam pikirannya. Marilah kita menjadi orang tua dan guru yang selalu memberikan kasih sayang, karena kasih sayang adalah hak anak yang mutlak diberikan. Jika ketulusan, keikhlasan dan kasih sayang sudah kita berikan, maka saya yakin kita semua adalah PENGHUNI SURGA.


Untuk menutup tulisan ini, maka sebaiknya direnungkan kata-kata bijak yang di ungkapkan oleh Dorothy Law Nattle yang berbunyi, jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia akan belajar menyesal. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar memahami diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia akan belajar adil. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menyenangi diri. Jika anak dibesarkan dengan cinta dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan.          



Last Updated on Tuesday, 29 January 2013 02:47
 
Wednesday, 23 January 2013 00:33

REVOLUSI PENDIDIKAN DAN KURIKULUM TAHUN 2013


(Catatan Perjalan dari Bumi Maja Lobo Dahu ke Bumi Nggahi Rawi Pahu)

Oleh : Drs. H. Lalu Syafi'i, MM

Kepala Dinas Dikpora Provinsi Nusa Tenggara Barat


Perjalanan dua hari di Kabupaten Bima dan Dompu adalah perjalanan yang mengesankan. Suasana sungguh mempesona. Sepanjang mata memandang yang nampak adalah pemandangan hijau menawan. Tanaman jagung para petani melambai penuh damai. Di tepian bukit, tanaman jati pun tampak segar, sesegar semangat kami dan rombongan menelusuri jalan panjang.  Wakil Menteri Pendidikan Republik Indonesia Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS yang saya dampingi saat itu, tak henti-hentinya berdecak kagum. Begitu pula teman kami serombongan, Ir. H. Rosiadi Sayuti, M.Sc., PhD  Kepala Bappeda NTB beserta Drs. M. Irfan, M.Pd Kepala LPMP ikut terpana menyaksikan indahnya alam. Semangat kami pun semakin membara karena akan bertemu dengan teman-teman tenaga pendidik yang datang dari seluruh pelosok.


Hampir pada setiap kesempatan bertemu dengan para tenaga pendidik, selalu saja pertanyaan yang muncul tentang Kurikulum tahun 2013. Tampak keceriaan di raut muka mereka, semangat ingin tahu dan semangat  untuk memperbaiki  sistem pembelajaran dengan kurikulum baru yang akan berlaku pada juli 2013 ini.


Dalam perjalanan dari bumi "Maja Lobo Dahu" menuju "Nggahi Rawi Pahu", saya sempat mampir di sebuah Sekolah Dasar. Saya melewati sebuah kelas dan mencoba masuk setelah meminta izin untuk mengikuti pembelajaran di kelas. Ibu tenaga pendidik yang ramah itu pun mempersilahkan saya untuk duduk sambil berucap "santabe". Saya pun ikut mengamati proses pembelajaran langkah demi langkah.


Melalui bisikan Kepala Sekolah, tenaga pendidik tersebut mengetahui bahwa saya adalah seorang Kepala Dinas Pendidikan. Tenaga pendidik tersebut semakin tampak semangat mengajar. Bahkan suaranya kadang melengking tinggi seraya memecah keheningan. Saking semangatnya tanpa sadar nampak meneteskan keringat didahinya, sang tenaga pendidik seolah-olah sedang mengikuti lomba pidato. Peserta didiknya dibiarkan menjadi pendengar setia dan hanya sesekali diberikan kesempatan untuk bertanya. Sang tenaga pendidik sangat mendominasi kelas. Mungkin untuk meyakinkan saya, bahwa ia sangat menguasai pelajaran. Tak lama kemudian waktu berselang, bel istirahat pun berbunyi. Dan spontan para peserta didik menyambut dengan teriakan "hore-hore !!!".


Dengan gaya bersahabat, saya mengajak tenaga pendidik tersebut untuk berdiskusi secara mendalam di ruang Kepala Sekolah. Pertanyaan pertama saya kepadanya adalah Bagaimana persaan Ibu setelah selesai mengajar di kelas tadi ?. Jika puas alasannya apa ?. Dan jika kurang puas alasannya apa ?. Dengan yakin ia menjawab, "puas". Alasannya adalah seluruh materi telah habis ia sampaikan dan kekurang puasannya karena belum sempat mengadakan evaluasi.


Kami pun berdiskusi cukup panjang. Kepala Sekolah dan guru lainnya juga ikut terlibat. Dari diskusi tersebut, kami sepakat menyimpulkan bahwa cara penyajian proses pembelajaran yang saya amati tadi kurang tepat. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar kesimpulan kami. Pertama : tenaga pendidik sangat mendomminasi kelas. Kedua : peserta didik kurang diberikan kesempatan untuk berpendapat. Ketiga : tenaga pendidik hanya berprinsip target kurikulum terpenuhi. Keempat : kelas monoton dan tidak ada unsur bermain. Kelima : alat bantu mengajar tidak digunakan.


Ternyata kesimpulan kami tersebutlah yang menjadi alasan utama lahirnya kurikulum tahun 2013. Dengan diberlakukannya kurikulum 2013, maka kondisi mengajar seperti kami utarakan diatas sudah tidak boleh terulang kembali.


Mengapa demikian ?. Karena jiwa dan semangat kurikulum tahun 2013 adalah semangat perubahan. Perubahan cara pandang yang sebelumnya tenaga pendidik dominan, berubah menjadi peserta didik yang lebih dominan. Peserta didik diberikan kesempatan berekspresi dan berinovasi, sehingga seluruh potensinya dapat tergali dalam proses pembelajaran. Kelas harus hidup dan bergairah dari awal sampai akhir pembelajaran. Seluruh peserta didik harus mampu melahirkan berbagai macam pertanyaan dan setiap pertanyaan dihargai dengan pujian. Jadi semangat belajar peserta didik dibangkitkan dengan pertanyaan yang memancing tumbuhnya kreatifitas, berani mengemukakan pendapat dan berpikir cepat serta sistematis.


Kami tidak menyangka bahwa antusiasme teman-teman tenaga pendidik di Kabupaten Bima dan Dompu begitu bersemangat. Meski berjubel, semuanya tampak sumringah. Penjelasan Bapak Wakil Menteri Pendidikan Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS disimak dengan seksama. Terpancar dalam raut wajahnya bahwa teman-teman tenaga pendidik sangat merindukan perubahan. Itulah sebabnya kami juga tak sedikitpun merasakan letih walau harus menempuh perjalanan selama dua hari dua malam. Bapak Wakil Menteri amat menikmati perjalanan kami. Sepanjang jalan yang kami lalui, mulus dan mengasyikkan, beliau tidak menduga bahwa di Provinsi Nusa Tenggara Barat sarana infrastrukturnya telah melebihi kota-kota lain di Indonesia.


Penjelasan Bapak Wakil Menteri tentang kurikulum tahun 2013 mengalir deras, seperti hujan yang mengguyur bumi "Maja Lobo Dahu" tanpa henti. Penjelasan beliau sampai kepada hal-hal teknis. Seperti pengembangan tematik. Beliau mencontohkan  pembelajaran di Sekolah Dasar berdasarkan konsep kurikulum tahun 2013 adalah menggunakan tema. Contoh yang dikemukakan adalah tema pembelajaran di Sekolah Dasar kelas I. Yang berisi atas delapan tema. Itu berarti, satu tema membutuhkan jangka waktu empat pekan dalam proses pembelajarannya. Sehingga peserta didik Sekolah Dasar kelas I setiap hari hanya akan membawa satu buku pelajaran yakni buku tema saja. Tidak seperti kurikulum sebelumnya, yang mengharuskan peserta didik membawa buku mata pelajaran lebih dari 5 jenis buku sehari, sehingga menimbulkan persepsi bahwa sekolah itu mahal.


Tema - tema pembelajaran di kelas I Sekolah Dasar meliputi : tema pertama, diri sendiri (jujur tertib  dan bersih), tema kedua : kegemaranku, tema ketiga : kegiatanku, tema keempat : keluargaku, tema kelima : pengalamanku, tema keenam : lingkunganku bersih dan sehat, tema ketujuh : benda, binatang, dan tanaman di sekitarku, tema kedelapan : peristiwa alam. Masing - masing tema membutuhkan waktu 4 pekan pembelajaran. Setiap tema memuat kompetensi sikap yang ditekankan pada anak kelas I SD terutama jujur, disiplin, bersih dan kolaboratif.


Untuk lebih konkretnya, Bapak Wakil Menteri memberikan contoh pengembangan tema. Contoh tema yang disampaikan adalah tema tanaman disekitarku. Langkah awalnya adalah tenaga pendidik mengajak peserta didik mencabut tanaman-tanaman kecil yang ada di sekitar sekolah sambil bermain, bernyanyi, bersorak dan bergembira. Peserta didik mengamati tanaman-tanaman yang dicabutnya, ternyata tanaman-tanaman tersebut bervariasi dengan memiliki akar berbeda. Setiap anak dimotivasi untuk mengkomunikasikan tanaman hasil cabutannya. Di situlah akan terjadi sebuah proses keberanian mengemukakan pendapat, melatih mempresentasikan apa yang diamatinya, dan membanding-bandingkan dengan tanaman hasil cabutan teman lainnya. Dengan demikian, peserta didik dapat menyimpulkan bahwa tanaman itu beraneka ragam bentuk dan coraknya, dengan memiliki akar, daun dan batang yang berbeda-beda pula.


Dari sisi tenaga pendidik, kehadiran kurikulum tahun 2013 lebih mudah dalam memberikan pembelajaran. Dikarenakan kompetensi yang akan dicapai telah ditentukan terlebih dahulu. Dan setiap tema sudah dibuatkan buku panduan atau buku babon, sehingga tenaga pendidik akan mudah menerapkan pembelajaran. Dengan demikian tidak ada alasan bagi tenaga pendidik beranggapan bahwa kehadiran kurikulum 2013 akan menyulitkan. Disamping itu, seluruh tenaga pendidik akan dilatih sehingga penerapan kurikulum 2013 akan lebih mudah.


Tenaga pendidik pun akan lebih bergairah dan bersemangat dalam mengajar, karena akan lebih mudah memenuhi ketentuan beban mengajar 24 jam perminggu. Tugas tenaga pendidik akan semakin ringan, karena tidak lagi dikejar oleh target kurikulum yang memberatkan. Kemudian sarana pendukung seperti buku, bahan ajar dan panduan telah disiapkan oleh pemerintah.


Sistem penilaian pun lebih komprehensif, karena format penilaian peserta didik menggunakan fortopolio yang menilai keberhasilan pembelajaran dari seluruh komponen penilaian, yakni mulai dari penilaian observasi, pengamatan, tanya jawab, diskusi, dan menilai respon individu termasuk bagaimana menghargai pendapat orang lain, serta keterampilan mengkomunikasikan hasil pembelajaran. Nilai-nilai itulah yang akan menjadi nilai kumulatif dalam buku rapor peserta didik.


Dari sisi peserta didik perubahan mendasar yang diharapkan adalah adanya respon yang lebih produktif, kreatif dan inovatif. Selain itu juga peserta didik diharapkan lebih bergairah dalam belajar serta senang berlama-lama berada di Sekolah. Karena selama belajar, peserta didik juga dapat bermain, berekreasi, dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkomunikasi, berekspresi, dan mendapat motivasi serta bimbingan yang sesuai dengan perkembangan jiwa mereka.


Dari sisi orang tua peserta didik, beban pembiayaan tidak telalu tinggi. Orang tua tidak lagi harus membeli buku yang beraneka ragam, karena buku tema dan buku agama sebagai buku pokok telah disiapkan oleh Sekolah. Orang tua juga dapat mengetahui perkembangan anaknya melalui fortopolio sebagai umpan balik.


Dari sisi manajemen sekolah, Kepala Sekolah harus lebih mengedepankan penciptaan suasana sekolah yang nyaman, sarana prasarana yang rapi dan bersih, kamar kecil diupayakan tetap bersih dan harum, menjamin tersedianya tempat bermain peserta didik yang lebih variatif, pengaturan kelas yang dinamis, variasi tempat duduk di usahakan berganti, kebersihan selalu terjaga dan sekolah bebas dari asap rokok. Intinya, semua komponen penunjang pembelajaran harus dipadukan dengan upaya pembudayaan hidup jujur, bersih, kondusif dan kolaboratif.


Pada sisi masyarakat, akan terpenuhinya sebagian harapan masyarakat bahwa sekolah tempat mendidik pribadi peserta didik menjadi anak yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan budi pekerti, memiliki jiwa disiplin, dan taat beribadah.


Dari sisi negara dan bangsa diharapkan akan terbangun jiwa patriotisme, rasa cinta tanah air, hidup berdemokrasi, mengembangkan jiwa gotong royong, berkepribadian Indonesia serta mampu bersaing di kancah dunia.


Itulah sebabnya maka kurikulum tahun 2013, suka tidak suka harus segera dimulai. Mengapa ?. Jawabnya : karena merajut masa depan harus dimulai dengan merubah paradigma berpikir.  Perubahan mendasar yakni jika pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya melalui proses pendidikan yang bagus dan berkualitas, maka paradigma tersebut akan berubah menjadi pembangunan kesejahteraan yang berbasis pada peradaban. Sehingga modal pembangunan bangsa kedepan adalah peradaban yang berkualitas. Dengan kata lain sumber pembangunan bangsa adalah manusia Indonesia beradab, yang akhirnya kekayaan alam akan berganti menjadi kekayaan peradaban.

Last Updated on Tuesday, 29 January 2013 02:45
 
Wednesday, 23 January 2013 00:12

MENGAPA KURIKULUM PENDIDIKAN HARUS BERGANTI . . ?

Oleh

Drs. H. Lalu Syafi’I, MM

Kepala Dinas Dikpora Provinsi NTB



Tentu kita sepakat, bahwa pendidikan adalah sistem rekayasa social yang paling bermartabat. Mengapa?. Karena berbicara pendidikan berarti berbicara peradaban dan masa depan bangsa. Itulah sebabnya tema pendidikan menjadi satu-satunya tema yang selalu hangat dan tidak pernah selesai didiskusikan. Setidak – tidaknya ada 3 alasan mengapa pendidikan menjadi sangat penting. Pertama, memiliki perspektif yang luas. Kedua, memanusiakan manusia. Dan ketiga, mampu membentuk peradaban bangsa.


Dalam kerangka mewujudkan alasan tersebut. Setidaknya dua hal yang paling mendasar dalam perspektif peningkatan mutu pendidikan adalah komponen kurikulum dan pendidik. Kurikulum bersifat dinamis dan kehadirannya sebagai jembatan untuk menjawab kebutuhan hidup masyarakat pada zamannya.


Jika kita mengurai kilas balik, perjalanan kurikulum di Indonesia terdapat beberapa fase perubahan. Pertama, kurikulum 1945 yang berlaku pada saat negara baru berdiri. Kurikulum tersebut sarat dengan penguasaan isi pelajaran yang belum berstruktur. Dua tahun kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 1947 yang berciri rencana pelajaran lebih terperinci dan menguraikan tujuan pembelajaran.


Setelah mengalami berbagai macam problematika dan fenomena politik bangsa, maka pada tahun 1964 ditetapkan kurikulum baru yang memuat rencana pendidikan khusus Sekolah Dasar, yang kemudian direvisi dan disempurnakan menjadi sebuah kurikulum yang disebut dengan kurikulum 1968. Dalam fase 1945 sampai kurikulum 1968, sistem pengajarannya bertumpu pada penguasaan materi, aspek pengembangan kreatifitas peserta didik kurang terbangun dan pendidik terlalu dominan dalam proses pengajaran. Akhirnya pada tahun 1973 diperkenalkan kurikulum proyek rintisan pembangunan (PPSP) yang disempurnakan menjadi kurikulum 1975. Lambat laun pergeseran paradigma  sistem pengajaran mengalami pergeseran. Dan semakin disadari bahwa proses belajar mengajar tidaklah semata-mata hanya memberitahu dari tidak tahu menjadi tahu, tapi dirasakan bahwa yang lebih penting adalah bagaimana memberikan pendidikan yang baik kepada peserta didik dengan lebih melibatkan peran peserta didik dalam pembelajaran. Itulah sebabnya maka pada tahun 1984 ditetapkan kurikulum 1984 yang telah mulai menerapkan pembelajaran peserta didik aktif dalam proses pembelajaran, dengan mengadopsi berbagai pendekatan pola pembelajaran dari negara-negara maju. Sejak saat itu pola pembelajaran konvensional sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.


Proses pendidikan yang pada mulanya sentralistik, pelan dan pasti telah memberikan ruang lebih besar kepada peserta didik untuk dominan dan berperan aktif dalam pembelajaran. Peran pendidik hanya bersifat memfasilitasi. Sepuluh tahun kemudian kurikulum tersebut disempurnakan kembali menjadi kurikulum 1994.


Pada tahun 2004, di Indonesia mulai diperkenalkan kurikulum berbasis kompetensi, yang memuat berbagai kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, mulai dari tingkatan pendidikan dasar sampai menengah atas dan kejuruan. Dua tahun kemudia kurikulum tahun 2004 mengalami penyempurnaan menjadi kurikulum tahun 2006 yang lebih dikenal dengan kurikulum KTSP. Kurikulum tingkat satuan pendidikan hadir dengan  memberikan keluasan dan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menentukan kurikulumnya sendiri dengan bertumpu pada kompetensi yang telah ditetapkan.


Zaman pun mengalami perubahan yang sungguh cepat, sehingga semakin disadari, bahwa masalah besar yang menimpa bangsa ini adalah krisis moral, krisis peradaban, krisis rasa kebangsaan dan krisis multidimensi bidang kehidupan bermasyarakat. Untuk itu harus dihadirkan sebuah kurikulum yang tidak hanya menuntut peserta didik memiliki kompetensi, tetapi mampu mencetak generasi bangsa yang beriman dan bertaqwa, berakhlakul karimah, berbudi pekerti luhur, terampil, sehat jasmani rohani, berwawasan kebangsaan, berpengetahuan, mampu hidup bersama secara damai, menerima dan menghargai perbedaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai amanat Undang – undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3.


Ada perbedaan pendekatan yang menonjol, antara kurikulum tahun 2013 dengan kurikulum sebelumnya yakni terletak pada sistem pembelajaran. Ciri utama pembelajarannya adalah enjoy learning, bermain, observasi, beribadah, collaborative learning, dengan filosofi penanaman nilai-nilai kejujuran, keihklasan, pola hidup bersih dan kedisiplinan. Mengapa demikian ?. Jawabnya, karena manusia Indonesia yang diharapkan pada abad 21 adalah manusia yang jujur.


Permasalahan bangsa yang utama saat ini adalah ketidakjujuran. Semua permasalahan social, seperti kemiskinan, keterbelakangan, perkelahian, semangat kebangsaan yang rapuh, ketidakpercayaan antar sesama, semuanya disebabkan oleh pudarnya nilai-nilai kejujuran. Mengapa nilai kejujuran harus terbangun?. Karena pada saatnya nanti bangsa Indonesia akan menjadi negara besar, yang mampu bersaing dan unggul di bidang ekonomi, teknologi, politik, budaya dan peradaban. Saat ini saja, Indonesia telah berada pada posisi 16 besar di bidang ekonomi.


Perbandingan jumlah penduduk usia produktif, 30 tahun mendatang Indonesia akan menjadi negara yang memiliki jumlah penduduk usia produktif terbesar di dunia, itulah sebabnya kita harus menyiapkan generasi menjadi asset bangsa, manakala bangsa-bangsa lain sudah tidak memiliki lagi penduduk usia produktif.


Saat ini, China, Jepang dan negara-negara maju lainnya didunia memiliki penduduk produktif yang sudah berusia di atas 30 tahun, yang pada saatnya nanti akan habis. Sementara penduduk produktif usia muda sangat minim. Itulah sebabnya konsep pendidikan di Indonesia adalah menyiapkan generasi muda bangsa yang mampu bersaing pada zamannya, memiliki rasa kebangsaan yang tinggi, pribadi tangguh, unggul disegala bidang untuk mengisi berbagai sektor bidang keahlian di semua negara.


Berangkat dari pemikiran tersebut, suka atau tidak suka, maka kurikulum tahun 2013 harus mengacu untuk menjawab tantangan pada abad 21 yakni dapat menghasilkan insan Indonesia yang cerdas, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi secara jelas. Diakui juga dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan pada abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Pergeseran paradigma pembelajaran pada abad 21 dengan ciri : pertama, informasi tersedia dimana saja dan kapan saja, maka sistem pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu. Kedua, komputasi (lebih cepat memakai mesin), maka pembelajaran yang tepat diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), sehingga peserta didik tidak hanya mampu menyelesaikan masalah dengan menjawab saja. Ketiga, dengan otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin) dan model pembelajarannya diarahkan untuk melatih peserta didik berpikir analitis (mengambil keputusan) dan bukan berpikir mekanistis (rutin). Serta ciri yang terakhir, berkomunikasi kemana saja, dari mana saja, mudah dan cepat, maka model pembelajaran yang dikembangkan adalah pembelajaran yang menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam penyelesaian masalah.


Pembelajaran di Sekolah Dasar menekankan pada penanaman karakter dasar (kejujuran), pengenalan diri, pengenalan lingkungan, pengenalan nilai-nilai kearifan lokal, cinta tanah air, dengan prinsip menyenangkan dan mengesankan. Kurikulum tahun 2013 menekankan aspek filosofi yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, serta kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi. Sedangkan materi pembelajaran yang berat, seperti rumus-rumus ilmu terapan tidak diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar. Peserta didik Sekolah Dasar tidak lagi harus membawa tas berat yang berisi banyak buku pelajaran, cukup beberapa buku saja, namun memuat berbagai macam mata pelajaran karena mata pelajaran pada jenjang Sekolah Dasar menggunakan pembelajaran tematik.


Mata pelajaran IPA dan IPS tidak lagi disebut sebagai mata pelajaran. Tetapi nilai-nilai pembelajarannya masuk dalam tematik pembelajaran.  Mata pelajaran IPA dan IPS di Sekolah Dasar diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Pengintegrasian ini dilakukan karena penting, serta menyesuaikan zaman yang terus mengalami perkembangan pesat.


Hadirnya kurikulum baru bukan berarti kurikulum lama tidak bagus, melainkan kurikulum tahun 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap didalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum ini disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa mendatang.


Ciri yang paling menonjol pada kurikulum tahun 2013 adalah penambahan jam belajar yang dilakukan secara rasionalitas bahwa perubahan proses pembelajaran (dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu) dan proses penilaian (dari berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output menjadi berbasis kemampuan melalui penilaian proses dan output) memerlukan penambahan jam pelajaran.


Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Di samping itu, pengalaman membuktikan bahwa satuan pendidikan yang menerapkan full day learning lebih baik hasil pendidikannya. Indonesia yang tergolong sebagai negara berkembang menerapkan jumlah jam pembelajaran lebih singkat dari pada negara-negara maju lainnya.


Penambahan jam belajar bukan berarti peserta didik akan dijejali dengan pelajaran sepanjang hari, tetapi jam belajar diisi dengan berbagai kegiatan yang bersifat rekreatif (bermain, beribadah, berolahraga, berkesenian). Tidak lain harapannya adalah agar tumbuh peserta didik menjadi generasi muda yang tangguh, disiplin, jujur, rajin beribadah, kreatif, inovatif, optimis, bekerja keras, cinta tanah air, dan selalu menghargai perbedaan. Semoga kita lebih siap. Amin !!

Last Updated on Tuesday, 29 January 2013 02:48
 

INFORMASI PENDIDIKAN

data pendidikan

SELENGKAPNYA BISA DI DOWNLOAD DI BAWAH INI.......

.download dengan format  .pdf

download data pendidikan

 

 


 

 

 

 

download dengan format ebook  file  .chm

download format chm

 
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next > End >>

Page 14 of 46
© 20011BALAI TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN |BTKP@goV
.... KUIS KIHAJAR TK NASIONAL TGL 6-9 NOVEMBER DI JAKARTA ....
.:[Close]2x:.