Monday, 19 January 2015 02:11

Model Pembelajaran Inkuiri untuk  Meningkatkan Motivasi

Belajar Siswa

Oleh    :


Dra. Fitran Sari

GURU SMP NEGERI 3 MATARAM

 


Refleksi Awal

Kegiatan peningkatan kompetensi pendidik  setiap tahun dilaksanakan  oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/ kota  bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pendidik dan  profesionalisme pendidik dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pola Pendampingan Sekolah Berbasis Standar Nasional Pendidikan (SBSNP). Kegiatan ini adalah  salah satu program pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja pendidik. Model belajar yang digunakan dalam kegiatan pola pendampingan SBSNP , yaitu secara kolaboratif, melakukan kajian pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan serta memberi kesempatan kepada peserta untuk terlibat dalam proses pengembangan profesionalitasnya, Penulis  sebagai salah satu  peserta pendampingan sangat merasakan dampak  dari pola pendampingan ini dan sangat  terinspirasi. BACA SELENGKAPNYA..

Last Updated on Monday, 19 January 2015 02:12
 

 

SISWA/SISWI SMK PRAKERIN DI PUSAT SUMBER BELAJAR (PSB)

BALAI TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DINAS DIKPORA NTB

 

 

3(BTKP). Senin 5 Januari 2015, sebanyak 20 orang siswa/siswi yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan dari SMK Al-Muslimun NW Gerung Kabupaten Lombok Barat (6 orang), siswa/siswi SMKN 1 Batukliang Kabupaten Lombok Tengah (10 orang), dan, siswa/siswi SMKN 2 Selong Kabupaten Lombok Timur (4 orang),, mulai melalukan praktek kerja industri (prakerin) secara langsung di lapangan, guna menggali pengetahuan dan wawasan, implementasi teori dan praktek di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi.


Menurut Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (BTKP) Dinas Dikpora Provinsi Nusa Tenggara Barat Drs. Sukran, bahwa kegiatan ini dilaksanakan oleh para siswa sebagai akibat guru belum bisa memberikan bimbingan secara individu terhadap siswanya, kadang sekolah belum memiliki fasilitas atau perangkat, seperti komputer, LCD, ruangan khusus Pusat Sumber Belajar (PSB) yang memadai, termasuk akses jaringan internet di sekolahnya.


Sukran dalam sambutannya ada beberapa hal yang harus diikuti oleh siswa/siswi yang prakerin di Pusat Sumber Belajar (PSB) Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (BTKP) Dinas Dikpora Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain Tanamkan disiplin yang setinggi-tingginya seperti Jam masuk maupun Jam pulang, keingian mau belajar, dan menanamkan nilai-nilai  kejujuran pada diri masing-masing.

1

Kegiatan prakerin di Pusat Sumber Belajar (PSB) yakni para siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar apa saja khususnya dalam pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan akan diberikan bermacam-macam teori sekaligus praktik, antara lain multimedia (photografi , teknik pengambilan gambar audio visual, photoshop, coreldraw, editing Video dengan Corel video studio) , jaringan (mikrotik, switch/hub, access point, router, LAN, WLAN, proxy server, Web server, VPN, remote desktop), Perakitan PC dan Laptop Instalasi Operation System(OS) Linux dan windows , Aplikasi Microsoft Office (Word, Excel, Power Point, Access), pengenalan internet (browsing, email, blog, chat, video converence) dan membuat website sekolah dengan CMS Balitbang Kemdikbud serta konten pembelajaran lainnya.


Ditengah-tengah acara penerimaan siswa prakerin hadir, Kepala SMKN 1 Batukliang (Muh.Husni S, S.Pd), Guru Pendamping SMK Al-Muslimun NW Gerung (Achmad Karyadi Moechson S.Kom) serta Kasubbag TU, Kasi Produksi dan Tim Pembimbing dari Balai.

 

Pelaksanaan prakerin mulai dilaksanakan dari awal bulan Januari hingga bulan April 2015 (selama tiga bulan). Kegiatan prakerin siswa/siswi disesuiakan dengan hari/jam kerja Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.  Mukhtar@Wawan.

Last Updated on Monday, 05 January 2015 06:48
 
Written by ADMIN   
Wednesday, 31 December 2014 06:56

ISLAMISASI PENGETAHUAN

DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN KITA


Oleh :

1

Usman Jayadi, S.Pd

Guru di SD Negeri 24 Ampenan, Kota Mataram



SECARA filosofis, pendidikan Islam pada dasarnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, sehingga dengan nilai ini bisa membantu dalam menjalani proses kehidupannya, yang sekaligus juga untuk menghasilkan, mengisi, memelihara, dan memperbaiki peradabannya. Dalam konteks ini, maka dasar pendidikan Islam berkaitan dengan kepentingan dan cita-cita kemanusiaan universal. Dalam prosesnya, pendidikan Islam merupakan upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. BACA SELENGKAPNYA..

Last Updated on Wednesday, 31 December 2014 07:42
 
Written by ADMIN   
Tuesday, 30 December 2014 01:58

 


 

BEST PRACTICE

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SBSNP

“QUESTIONS STARS”

Oleh :


TITI HARYATI

GURU SMP NEGERI 6 MATARAM

 

 


 

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


(Permendikbud No 65/2014) menekankan pada pembelajaran saintifik yang merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa (Alfred De Vito, 1989). Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/ penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah(project based learning). Pendekatan saintifik menggharapkan adanya aktivitas pembelajaran dengan langkah 5 M diantaranya: mengamati (observing), menanya (questioning), mengumpulkan data (experimenting), mengasosiasi (associating), mengkomunikasikan (communicating). BACA SELENGKAPNYA..




 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(Permendikbud No 65/2014) menekankan pada pembelajaran saintifik yang merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa (Alfred De Vito, 1989). Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/ penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah(project based learning). Pendekatan saintifik menggharapkan adanya aktivitas pembelajaran dengan langkah 5 M diantaranya: mengamati (observing), menanya (questioning), mengumpulkan data (experimenting), mengasosiasi (associating), mengkomunikasikan (communicating).

Kegiatan menanya yang diharapkan dari siswa adalah terjadinya aktifitas belajar dengan mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai ke yang bersifat hipotesis diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri atau menjadi kebiasaan. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon atau jawaban dari seseorang (guru atau antar siswa) (Asril, 2010:81). Bertanya atau mengajukan pertanyaan merupakan salah satu fungsi pokok bahasa selain fungsi lain seperti menyatakan pendapat, perasaan, mengajukan alasan, mempertegas pendapat dan sebagainya.  Suatu ungkapan yang menyatakan bahwa it is better to ask some question than to know all the answers (Thurber) menunjukkan betapa pentingnya orang bertanya.

Siswa pada umumnya lebih senang menunggu untuk menjawab pertanyaan dari pada mempertanyakan sesuatu. Menggali proses berpikir siswa pada pembelajaran yang bersifat fakta dan hipotesis sangat sulit, siswa lebih bersifat apatis seolah tidak ingin menggali dan mencari tahu mengenai materi pembelajaran untuk mengkontruksi proses berpikirnya. Kesulitan ini, dikarenakan motivasi diri secara intrinsik dan ektrinsik masih kurang, sehingga kegiatan bertanya pada proses pembelajaran harus terus ditingatkan dengan menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi siswa, diharapkan akan mendapatkan pembiasaan menanya, dan terjadi peningkatan kualitas pertanyaannya.

Guru jarang memberikan penilaian secara autentik terhadap frekuensi dan kualitas pertanyaan siswa secara tertulis, hal ini tidak dapat membedakan siswa yang mempunyai kemampuan untuk mengembangkan potensi berpikirnya dengan siswa yang tidak mau mengembangkan potennsi berpikirnya.

B. Rumusan Masalah

Dari Latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah pada kegiatan penerapan “Questions Stars” dapat dinyatakan sebagai berikut:

1. Bagaimana frekuensi bertanya siswa terus meningkat dan menjadi kebiasaan siswa?

2. Bagaimana kualitas bertanya siswa meningkat dari keterampilan bertanya dasar hingga keterampilan bertanya lanjut?

C. Strategi Pemecahan Masalah

Untuk mengatasi masalah rendahnya frekuensi bertanya dan kualitas pertanyaan siswa maka dilakukan kegiatan PBM dengan penerapan “Questions Stars”.

“Questions Stars” adalah reward berupa bintang terbuat dari kertas diberikan guru kepada siswa yang menyampaikan pertannyaan kemudian siswa menuliskan namanya pada bintang tersebut disertai simbol huruf tingkat keterampilan bertanya dasar atau lanjut, kemudian bintang diberikan pada guru untuk diperlihatkan/ditempel didepan.

D. Tujuan

Tujuan penerapan “Questions Stars” pada PBM untuk mengetahui:

1. Apakah terjadi peningkatan frekuensi bertanya siswa ?

2. Apakah terjadi kualitas pertanyaan siswa dari keterampilan bertanya dasar hingga keterampilan bertanya lanjut?

E. Manfaat

Manfaat kegiatan penerapan “Questions Stars” untuk meningkatkan:

1. frekuensi bertanya siswa

2. kualitas pertanyaan siswa dari keterampilan bertanya dasar sampai mencapai keterampilan lanjut

3. kompetensi guru dalam pengembangan strategi pembelajaran dan memudahkan guru dalam melakukan penilain autentik.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Alasan Memilih Strategi Pemecahan Masalah

Menurut John. I. Bolla dalam proses pembalajaran setiap pertanyaan baik berupa kalimat tanya atau suruhan, yang menuntut respon siswa, sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir, dimasukkan pertanyaan. Pendapat serupa dikemukakan oleh G.A. Brown dan R.Edmonson dalam Siti Julaeha, pertanyaan adalah segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan).

Merujuk pada dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pertanyaan yang diajukan tidak selalu dalam rumusan kalimat tanya, melainkan dalam bentuk suruhan atas pertanyaan, selain itu dimaksudkan adanya respon siswa

Menurut Albantati (2010), keterampilan bertanya dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu: Pengertian keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Secara etimologis keterampilan diuraikan menjadi dua suku kata yaitu “terampil dan tanya”. Keterampilan bertanya dasar adalah pertanyaan pertama atau pembuka untuk mendapatkan keterangan atau informasi dari siswa. Untuk menindaklanjuti pertanyaan pertama diikuti oleh pertanyaan berikutnya atau disebut dengan pertanyaan lanjut. Dengan demikian, pertanyaan lanjut adalah kelanjutan dari pertanyaan pertama (dasar) yaitu mengorek atau mengungkapkan kemampuan berfikir yang lebih dalam dan komperehensif dari pihak yang diberi pertanyaan (siswa). Keberhasilan mengembangkan kemampuan berfikir yang dilakukan melalui bertanya lanjut banyak dipengaruhi oleh hasil pembelajaran yang dikembangkan melalui pengggunaan pertanyaan dasar. Kemampuan bertanya lanjut sebagai kelanjutan dari bertanya dasar lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berfikir, memperbesar partisipasi dan mendorong lawan bicara agar lebih aktif dan kritis mengembangkan kemampuan berfikirnya.

Pertanyaan dapat dimulai dari tingkat yang rendah ke tingkat kognitif yang lebih tinggi. Seperti: tingkat pemahaman, penerapan, analisis, sintesis maupun tingkat evaluasi. Pertanyaan dapat meningkatkan terjadinya interaksi jika siswa mengajukan pertanyaan, guru tidak segera menjawab pertanyaan dari murid, tetapi melontarkan kembali pertanyaan tersebut kepada siswa untuk didiskusikan.
hal ini akan dapat membantu siswa memberikan komentar yang wajar dan mampu mengembangkan cara berfikir siswa.

Prinsip bertanya, yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan bertanya antara lain: kehangatan dan keantusiasan : Suasana pembelajaran harus diciptakan dalam kondisi yang menyenangkan, sehingga merasa nyaman dan betah dalam belajar. Salah satu upaya mengembangkan suasana pembelajarana yang menyenangkan antara lain yaitu bagaimana pertanyaan yang diajukan memiliiki nuansa psikologis yang hangat dan mendorong semangat belajar yang tinggi. Berikutnya memberikan waktu berfikir yaitu memberikan kelonggaran (waktu) kepada siswa untuk memikirkan pertanyaan berdasarkan pengetahuan awal yang dipunyainya.

Klasifikasi Pertanyaan Menurut Taksonomi Bloom, Menurut Beni (2008:), Taksonomi Bloom merupakan salah satu cara yang dipakai dalam merumuskan tujuan pengajaran. Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas. Ada tiga kawasan atau disebut juga ranah (domain) yang dikemukan Bloom dan kawan-kawan dalam taksonomi tersebut ialah: kognitif (yang menyangkut aspek pikir); afektif (yang menyangkut aspek sikap); psikomotor (yang menyangkut aspek keterampilan). Dalam kaitannya dengan pertanyaan ini, maka domain yang digunakan ialah kognitif oleh karena seseorang yang bertanya berarti ia berpikir (aspek pikir yang diutamakan). Untuk domain kognitif ini ada enam tingkatan, yang masing-masing tingkat dituntut proses berpikir yang berbeda. Sesuai dengan tingkat kesukarannya dari keenam tingkatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan ialah: pertanyaan tingkat rendah terdiri dari pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), sedangkan pertanyaan tingkat tinggi terdiri dari : analisis (analysis), sintetis (synthesis), evaluasi (evaluation), masing-masing pengertian dijabarkan sebagai berikut:

Pertanyaan pengetahuan, Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penalaran dalam kategori yang terendah, yang hanya menuntut siswa untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan tentang fakta, kejadian, definisi dan sebagainya. Siswa hanya dituntut mengingat kembali apa yang dipelajarinya. Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan pengetahuan ini antara lain: Apa?, Siapa?, Bilamana?, Di mana?, Sebutkan!, Ingatlah istilah, Kemukakan definisi!, Pasangkan!, Berilah nama!, dan Golongkan!.

Pertanyaan pemahaman, pertanyaan ini meminta untuk menujukkan bahwa ia telah mengerti atau memahami sesuatu. Ia dikatakan memahami sesuatu berarti ia telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa yang dipelajarinya dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Beberapa kata yang dapat digunakan untuk pertanyaan pemahaman adalah: Bedakanlah, Terangkan, Simpulkan, Bandingkanlah, Jelaskan dengan kata-katamu sendiri, Terjemahkan, Ubahlah, Berilah contoh, dan Berikan interpretasi.

Pertanyaan penerapan (aplikasi), Pertanyaan penerapan adalah pertanyaan pertanyaan yang menuntut suatu jawaban dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Siswa dihadapkan pada pemecahan masalah sederhana dengan menggunakan pengetahuan yang telah dipelajarinya. Dengan menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau proses yang dipelajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan suatu jawaban yang benar terhadap masalah itu. Beberapa kata yang sering digunakan untuk pertanyaan penerapan adalah: Gunakanlah, Tunjukkanlah, Demonstrasikan, Buatlah sesuatu, Carilah hubungan, Tuliskan suatu contoh, Siapkanlah, dan Klasifikasikanlah.

Pertanyaan analisis, merupakan pertanyaan ini merupakan jenjang pertama dari kelompok pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan analisis menuntut siswa untuk berpikir secara mendalam, kritis, bahkan menciptakan sesuatu yang baru, untuk menjawab pertanyaan analisis, siswa harus mampu menguraikan sebab-sebab, motif-motif atau mengadakan deduksi (dari suatu generalisasi/kesimpulan umum/hukum/teori, dicari fakta-faktanya). Oleh karena itu, pertanyaan analisis tidak hanya mempunyai satu jawaban yang benar, melainkan berbagai alternatif. Pertanyaan analisis menuntut siswa terlibat dalam proses kognitif sebagai berikut:

Menguraikan alasan atau sebab-sebab dari suatu kejadian, Mempertimbangkan dan menganalisis inforamsi yang tersedia agar mencapai suatu kesimpulan atau generalisasi berdasarkan informasi, Menganalisis kesimpulan atau generalisasi untuk menemukan bukti yang menunjang atau menyangkal kesimpulan/generalisasi itu. Kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan analisis adalah: Analisislah, Kemukakan bukti-bukti, Mengapa, Identifikasikan, Tunjukkanlah sebabnya, dan Berilah alasan-alasan.

Pertanyaan sintesis, pertanyaan ini merupakan pertanyaan tingkat tinggi yang menuntut siswa untuk berpikir orisinil dan kreatif. Dengan pertanyaan ini akan diperoleh kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian atau unsur-unsur agar dapat menjadi suatu kesatuan. Mereka dituntut untuk dapat mengambil suatu kesimpulan dari informasi yang telah diberikan. Siswa tidak hanya menerka jawaban, melainkan harus berpikir dengan sungguh-sungguh. Berikut ini adalah kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan-pertanyaan sintesis: Ramalkanlah, Bentuk, Ciptakanlah, Susunlah, Rancanglah, Tulislah, Bagaimana kita dapat memecahkan, Apa yang terjadi seaindainya, Bagaimana kita dapat memperbaiki, dan Kembangkan.

Pertanyaan evaluasi, merupakan pertanyaan yang menuntut proses berpikir paling tinggi dan untuk dapat menyatakan pendapat atau menilai berbagai ide, karya seni, pemecahan masalah serta alasan-alasan keputusannya, harus digunakan kriteria-kriteria tertentu. Pertanyaan evaluasi dapat dikategorikan sebagai berikut:

pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat tentang berbagai persoalan
pertanyaan yang menilai suatu ide, pertanyaan yang meminta siswa menetapkan suatu cara pemecahan masalah, pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya seni terbaik.

Pertanyaan berdasarkan maksudnya menurut Hutasoit (2010), dapat dibedakan seperti dibawah ini :

Pertanyaan permintaan ( compliance question) adalah pertanyaan yang mengharapkan peserta didik mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pernyataan.
Pertanyaan retoris (rhetorical question) adalah pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru, dengan maksud hanya menyampaikan informasi kepada peserta didiknya.

Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) adalah pertanyaan yang bermaksud memberi arah atau menuntun seseorang sehingga dapat menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. Pertanyaan ini diperlukan jika seseorang peserta mengharapkan orang lain memperhatikan dengan seksama bagian-bagian tertentu atau pokok inti dari bahan yang disajikannya.

Pertanyaan menggali (probing question) adalah pertanyaan lanjutan yang dapat mendorong seseorang untuk lebih mendalami jawaban atas pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Jenis pertanyaan ini dimaksudkan untuk mendorong penjawab meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang diberikan.
Pertanyaan berdasarkan tujuannya menurut Wartono (2003:), pertanyaan berdasarkan maksudnya terdiri atas:

Pertanyaan Kognitif, Pertanyaan kognitif adalah pertanyaan yang dilakukan bertujuan untuk menguji pengetahuan, pemahaman, dan pendapat orang lain tentang materi pelajaran. Contohnya dalam ilmu fisika: “ Apa yang dimaksud dengan tekanan?”

Pertanyaan Performansi, Pertanyaan performansi adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan agar orang lain melakukan penampilan/performansi sesuai dengan yang dianjurkan penanya. Contonya: “ Bisakah Kamu mengerjakan soal itu di papan tulis?”.

Pertanyaan Konsekuensi, Pertanyaan konsekuensi adalah adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan agar siswa menjelaskan atau memberikan alasan terhadap tindakan ataupun pendapat yang telah dikemukakan. Contohnya: “Apa yang terjadi ketika tembaga dan kayu didekatkan pada sebuah magnet? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?”

Pertanyaan Eksplorasi, Prtanyaan eksplorasi adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan untuk menjajagi sejauh mana pengetahuan dan pengalaman orang tersebut sebelum ia menempuh pelajaran baru. Contonya: setelah dijelaskan tentang besaran dan satuan, kemudian memberikan pertanyaan “Kecepatan dan usaha termasuk besaran apa?”.

Menurut Wartono (2003), pertanyaan berdasarkan caranya terdiri atas:
Pertanyaan Mengarahkan, Pertanyaan mengarahkan adalah pertanyaan yang diberikan untuk menuntun seseorang dalam proses berpikir, sehingga dia dapat menemukan inti permasalahannya. Contohnya: ketika diterangkan tentang sifat-sifat bayangan pada cermin datar, maka ada perintah untuk menggambar bayangan benda di depan cermin datar berdasarkan hukum pemantulan pada cermin datar.
Pertanyaan menggali adalah pertanyaan lanjutan yang mendorong untuk lebih mendalami maksud dari pertanyaan yang diajukan sebelumnya, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanyaan sebelumnya.

Pertanyaan memancing adalah pertanyaan yang bertujuan untuk memancing ide-ide secara original, sehingga seseorang dapat memberikan jawaban secara tepat, jujur, benar, tidak malu, dan takut menjawabnya.

Sikap antusias dan hangat yang terjadi pada kegiatan belajar dapat memberikan arti dalam meningkatkan partisipasi siswa. Dan guru terus memberikan arahan lain ketika pertanyaan tersebut tidak sesuai akan membantu siswa lebih untuk bertanya (Wartono, 2003).

Faktor yang mempengaruhi Keterampilan Bertanya Siswa

1. Faktor dalam diri siswa

Minat siswa dalam bertanya, besar pengaruhnya terhadap berbagai aktivitas. Siswa yang berminat terhadap suatu pelajaran, akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang menarik minatnya. Tinggi rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan, ini erat kaitannya pula dengan tinggi rendahnya kesadaran diri terhadap pemenuhan rasa ingin tahu / kebutuhan akan informasi, yang salah satunya dengan mengajukan pertanyaan.

Memiliki perasaan tidak / kurang berani dalam bertanya, perasaan kurang berani (perasaan takut) adalah sejenis naluri. Kebanyakan perasaan takut itu disebabkan karena pengaruh lingkungan. Takut salah, takut mendapat ejekan. Perasaan takut yang ada pada siswa, akan melemahkan semangatnya dan akan menggoyahkan ketenangannya. Ia tidak berani mengajukan pertanyaan, karena diliputi perasaan takut, seperti takut salah, takut mengungkapkan pendapat dan karena ketakutan lainnya. Sehingga apa yang ingin ditanyakan tidak dapat diutarakannya.

Motif keingintahuan siswa, ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau seperti yang dikatakan oleh Sartain dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior yang dikutip oleh M. Ngalim Purwanto, “Motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku / perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Motif keingintahuan siswa yang besar pada suatu pelajaran, akan dapat dilihat pada semangatnya mengikuti pelajaran. Salah satunya yang dapat dilihat ialah kebiasaannya mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan. Dengan motif keingintahuannya yang besar segala aktivitas belajar demi mencapai prestasi dan cita-citanya akan dijalaninya dengan penuh kegigihan.

2. Faktor Dari Luar Diri Siswa

a. Faktor Guru (motivasi dari guru)

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada siswanya di sekolah, maka gurulah yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar siswanya. Sebagai pendidik guru tidak hanya berperan untuk mendorong meningkatkan prestasi belajar siswa, tetapi juga yang lebih jauh lagi untuk memotivasi siswa agar lebih aktif, bergairah belajar dan menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. Selaku motivator, guru harus selalu member semangat agar motif-motif yang positif pada siswanya dapat dibangkitkan, ditingkatkan dan dikembangkan.

Guru harus memotivasi siswanya agar terbiasa bertanya, karena hal itu penting bagi perkembangan kepribadian dan penambah pengetahuan. Dan sebagai orang yang menginginkan keberhasilan dalam mengajar, guru harus selalu mempertahankan agar umpan balik selalu berlangsung dalam diri siswanya. Umpan balik itu tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk sikap mental yang selalu berproses untuk menyerap bahan pelajaran yang diberikan. Bertanya adalah salah satu umpan balik yang diberikan siswa pada guru.

Guru yang hanya mengajar dan tanpa memperhatikan mengerti tidaknya siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan, akan mendapat reaksi negatif dari siswa. Siswa cenderung menunjukkan sikap acuh tak acuh atas apa yang disampaikan, ia juga bisa melakukan kegiatan lain yang terlepas dari masalah pelajaran.

b. Faktor Lingkungan, seperti suasana belajar

Suasana belajar yang menyenangkan akan mempengaruhi semangat dan suasana hati siswa. Siswa yang memiliki semangat untuk belajar dan memiliki suasana hati yang menyenangkan, ia akan mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan tidak akan sungkan-sungkan mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasannya.

Penerapan “Questions Stars” yang dimulai dengan memberi motiovasi siswa untuk bertanya aktif pada kegiatan pembelajaran, membimbing siswa dalam bertanya pada tahapan pertanyaan dari yang sederhana misal dengan kata kunci apa (what) ,dimana (where), kapan (when), siapa (who), mengapa (why) menjadi pertanyaan tingkat tingkat tinggi analisis sintesis dan evaluasi salah satunya denga kata kunci bagaimana (who) dikenal pada kalangan siswa dengan 5W dan 1H. Pada masing-masing siswa yang berani bertanya akan mendapat nilai kuantitatif melalui sarana bintang yang akan diberikan. Maka penerapan “Questions Stars” dapat mengakibatkan perubahan positip nampak pada setiap akhir pembelajaran siswa yang mendapatkan bintang bertanya, akan terus meningkat, setelah terjadi kenaikan frekuensi bertanya selanjutnya bintang bertanya akan debedakan untuk pertanyaan sederhana sampai pertanyaan tingkat tinggi. Harapan peningkatan frekuensi bertanya pada proses pembelajaran dan terjadi peningkatan kualitas keterampilan bertanya siswa pada pertanyaan tingkat tinggi akan terjadi melalui penerapan “Questions Stars”.

Kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan frekuensi pertanyaan dan terjadinya peningkatan kualitas pertanyaan melalui penerapan “Questions Stars” dikarenakan “Questions Stars” dapat memotivasi siswa secara intrinsik yang mana guru memberikan motivasi siswa untuk bertanya karena hal itu penting bagi perkembangan kepribadian dan menanbah pengetahuan dengan cara memberi umpan balik dalam bentuk fisik, maupun mental. dan memotivasi siswa secara ektrinsik untuk mau bertanya dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, menciptakan kompetisi yang sehat akan mempengaruhi semanagt dan suasana hati siswa yang akan berdampak pada keikutsertaan dalam pembelajaran dengan penuh perhatian serta tidak sungkan untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan, meningkatkan frekuensi pertanyaan dalam proses belajar yang diharapkan diharapkan akan berdampak pada kebiaasaan bertanya dan terjadinya peningkatan kualitas pertanyaan, meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya diharapkan hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan peningkatan proses pembelajaran dapat teratasi.

B. Langkah-langkah Pemecahan Masalah

Untuk mengatasi masalah diatas dipergunakan penerapan “Questions Stars” dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Perencanaan

a. Menentukan data awal berdasarkan hasil pembelajran sebelumnya

b. Melakukan analisis KI/KD

c. Mengembangkan RPP

d. Mengembangkan LKS, Materi Ajar.

e. Menyiapkan reward dalam bentuk bintang yang terbuat dari kertas

f. Mengembangkan instrumen atau angket respon siswa terhadap penerapan “Questions Stars

g. Menyiapkan instrumen penilaian sikap dan pengetahuan, keterampilan

h. Menyiapkan alat dokumentasi

2. Pelaksanaan

a. Pertemuan PBM 1

Dilaksanakan pada : Oktober 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Klasifikasi Benda

b. Pertemuan PBM 2

Dilaksanakan pada : Oktober 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Klasifikasi Materi

c. Pertemuan PBM 3

Dilaksanakan pada : Nopember 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Klasifikasi, Dikotomi dan Kunci Determinasi

d. Pertemuan PBM 4

Dilaksanakan pada : Nopember 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Kelompok Makhluk Hidup Berukuran Kecil

e. Pertemuan PBM 5

Dilaksanakan pada : Desember 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Kelompok Hewan

C. Alat dan Instrumen yang digunakan

1. Bintang yang terbuat dari kertas

2. Instrumen atau angket respon siswa terhadap penerapan ““Questions Stars”

3. Instrumen penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan

4. Alat dokumentasi

D. Tempat dan Waktu serta Lembaga yang Mendukung

1. Tempat :

SMPN 6 Mataram

2. Waktu :

a. Persiapan dimulai bulan September 2014

b. Pelaksanaan dimulai Oktober sampai Desember 2014

3. Lembaga yang Mendukung :

a. SMPN 6 Mataram

b. Dinas Dikpora Kota Mataram

c. LPMP Provinsi NTB

E. Indikator Kinerja

1. Untuk frekuensi bertanya dikatakan mengalami peningkatan apabila sebanyak 50% dari jumlah siswa, menyampaikan pertanyaan.

2. Untuk kualitas keterampilan bertanya siswa dikatakan berhasil apabila dari jumlah siswa yang bertanya, 50% siswa menegemukakan pertanyaan tingkat lanjut.

F. Hasil atau Dampak yang dicapai

Peningkatan frekuensi bertanya siswa pada proses pembelajaran pertama, kedua hingga ke 5, terjadi peningkatan yang dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(Permendikbud No 65/2014) menekankan pada pembelajaran saintifik yang merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa (Alfred De Vito, 1989). Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/ penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah(project based learning). Pendekatan saintifik menggharapkan adanya aktivitas pembelajaran dengan langkah 5 M diantaranya: mengamati (observing), menanya (questioning), mengumpulkan data (experimenting), mengasosiasi (associating), mengkomunikasikan (communicating).

Kegiatan menanya yang diharapkan dari siswa adalah terjadinya aktifitas belajar dengan mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai ke yang bersifat hipotesis diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri atau menjadi kebiasaan. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon atau jawaban dari seseorang (guru atau antar siswa) (Asril, 2010:81). Bertanya atau mengajukan pertanyaan merupakan salah satu fungsi pokok bahasa selain fungsi lain seperti menyatakan pendapat, perasaan, mengajukan alasan, mempertegas pendapat dan sebagainya. Suatu ungkapan yang menyatakan bahwa it is better to ask some question than to know all the answers (Thurber) menunjukkan betapa pentingnya orang bertanya.

Siswa pada umumnya lebih senang menunggu untuk menjawab pertanyaan dari pada mempertanyakan sesuatu. Menggali proses berpikir siswa pada pembelajaran yang bersifat fakta dan hipotesis sangat sulit, siswa lebih bersifat apatis seolah tidak ingin menggali dan mencari tahu mengenai materi pembelajaran untuk mengkontruksi proses berpikirnya. Kesulitan ini, dikarenakan motivasi diri secara intrinsik dan ektrinsik masih kurang, sehingga kegiatan bertanya pada proses pembelajaran harus terus ditingatkan dengan menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi siswa, diharapkan akan mendapatkan pembiasaan menanya, dan terjadi peningkatan kualitas pertanyaannya.

Guru jarang memberikan penilaian secara autentik terhadap frekuensi dan kualitas pertanyaan siswa secara tertulis, hal ini tidak dapat membedakan siswa yang mempunyai kemampuan untuk mengembangkan potensi berpikirnya dengan siswa yang tidak mau mengembangkan potennsi berpikirnya.

B. Rumusan Masalah

Dari Latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah pada kegiatan penerapan “Questions Stars” dapat dinyatakan sebagai berikut:

1. Bagaimana frekuensi bertanya siswa terus meningkat dan menjadi kebiasaan siswa?

2. Bagaimana kualitas bertanya siswa meningkat dari keterampilan bertanya dasar hingga keterampilan bertanya lanjut?

C. Strategi Pemecahan Masalah

Untuk mengatasi masalah rendahnya frekuensi bertanya dan kualitas pertanyaan siswa maka dilakukan kegiatan PBM dengan penerapan “Questions Stars”.

“Questions Stars” adalah reward berupa bintang terbuat dari kertas diberikan guru kepada siswa yang menyampaikan pertannyaan kemudian siswa menuliskan namanya pada bintang tersebut disertai simbol huruf tingkat keterampilan bertanya dasar atau lanjut, kemudian bintang diberikan pada guru untuk diperlihatkan/ditempel didepan.

D. Tujuan

Tujuan penerapan “Questions Stars” pada PBM untuk mengetahui:

1. Apakah terjadi peningkatan frekuensi bertanya siswa ?

2. Apakah terjadi kualitas pertanyaan siswa dari keterampilan bertanya dasar hingga keterampilan bertanya lanjut?

E. Manfaat

Manfaat kegiatan penerapan “Questions Stars” untuk meningkatkan:

1. frekuensi bertanya siswa

2. kualitas pertanyaan siswa dari keterampilan bertanya dasar sampai mencapai keterampilan lanjut

3. kompetensi guru dalam pengembangan strategi pembelajaran dan memudahkan guru dalam melakukan penilain autentik.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A. Alasan Memilih Strategi Pemecahan Masalah

Menurut John. I. Bolla dalam proses pembalajaran setiap pertanyaan baik berupa kalimat tanya atau suruhan, yang menuntut respon siswa, sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir, dimasukkan pertanyaan. Pendapat serupa dikemukakan oleh G.A. Brown dan R.Edmonson dalam Siti Julaeha, pertanyaan adalah segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan).

Merujuk pada dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pertanyaan yang diajukan tidak selalu dalam rumusan kalimat tanya, melainkan dalam bentuk suruhan atas pertanyaan, selain itu dimaksudkan adanya respon siswa

Menurut Albantati (2010), keterampilan bertanya dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu: Pengertian keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Secara etimologis keterampilan diuraikan menjadi dua suku kata yaitu “terampil dan tanya”. Keterampilan bertanya dasar adalah pertanyaan pertama atau pembuka untuk mendapatkan keterangan atau informasi dari siswa. Untuk menindaklanjuti pertanyaan pertama diikuti oleh pertanyaan berikutnya atau disebut dengan pertanyaan lanjut. Dengan demikian, pertanyaan lanjut adalah kelanjutan dari pertanyaan pertama (dasar) yaitu mengorek atau mengungkapkan kemampuan berfikir yang lebih dalam dan komperehensif dari pihak yang diberi pertanyaan (siswa). Keberhasilan mengembangkan kemampuan berfikir yang dilakukan melalui bertanya lanjut banyak dipengaruhi oleh hasil pembelajaran yang dikembangkan melalui pengggunaan pertanyaan dasar. Kemampuan bertanya lanjut sebagai kelanjutan dari bertanya dasar lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berfikir, memperbesar partisipasi dan mendorong lawan bicara agar lebih aktif dan kritis mengembangkan kemampuan berfikirnya.

Pertanyaan dapat dimulai dari tingkat yang rendah ke tingkat kognitif yang lebih tinggi. Seperti: tingkat pemahaman, penerapan, analisis, sintesis maupun tingkat evaluasi. Pertanyaan dapat meningkatkan terjadinya interaksi jika siswa mengajukan pertanyaan, guru tidak segera menjawab pertanyaan dari murid, tetapi melontarkan kembali pertanyaan tersebut kepada siswa untuk didiskusikan.

hal ini akan dapat membantu siswa memberikan komentar yang wajar dan mampu mengembangkan cara berfikir siswa.

Prinsip bertanya, yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan bertanya antara lain: kehangatan dan keantusiasan : Suasana pembelajaran harus diciptakan dalam kondisi yang menyenangkan, sehingga merasa nyaman dan betah dalam belajar. Salah satu upaya mengembangkan suasana pembelajarana yang menyenangkan antara lain yaitu bagaimana pertanyaan yang diajukan memiliiki nuansa psikologis yang hangat dan mendorong semangat belajar yang tinggi. Berikutnya memberikan waktu berfikir yaitu memberikan kelonggaran (waktu) kepada siswa untuk memikirkan pertanyaan berdasarkan pengetahuan awal yang dipunyainya.

Klasifikasi Pertanyaan Menurut Taksonomi Bloom, Menurut Beni (2008:), Taksonomi Bloom merupakan salah satu cara yang dipakai dalam merumuskan tujuan pengajaran. Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas. Ada tiga kawasan atau disebut juga ranah (domain) yang dikemukan Bloom dan kawan-kawan dalam taksonomi tersebut ialah: kognitif (yang menyangkut aspek pikir); afektif (yang menyangkut aspek sikap); psikomotor (yang menyangkut aspek keterampilan). Dalam kaitannya dengan pertanyaan ini, maka domain yang digunakan ialah kognitif oleh karena seseorang yang bertanya berarti ia berpikir (aspek pikir yang diutamakan). Untuk domain kognitif ini ada enam tingkatan, yang masing-masing tingkat dituntut proses berpikir yang berbeda. Sesuai dengan tingkat kesukarannya dari keenam tingkatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan ialah: pertanyaan tingkat rendah terdiri dari pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), sedangkan pertanyaan tingkat tinggi terdiri dari : analisis (analysis), sintetis (synthesis), evaluasi (evaluation), masing-masing pengertian dijabarkan sebagai berikut:

Pertanyaan pengetahuan, Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penalaran dalam kategori yang terendah, yang hanya menuntut siswa untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan tentang fakta, kejadian, definisi dan sebagainya. Siswa hanya dituntut mengingat kembali apa yang dipelajarinya. Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan pengetahuan ini antara lain: Apa?, Siapa?, Bilamana?, Di mana?, Sebutkan!, Ingatlah istilah, Kemukakan definisi!, Pasangkan!, Berilah nama!, dan Golongkan!.

Pertanyaan pemahaman, pertanyaan ini meminta untuk menujukkan bahwa ia telah mengerti atau memahami sesuatu. Ia dikatakan memahami sesuatu berarti ia telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa yang dipelajarinya dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Beberapa kata yang dapat digunakan untuk pertanyaan pemahaman adalah: Bedakanlah, Terangkan, Simpulkan, Bandingkanlah, Jelaskan dengan kata-katamu sendiri, Terjemahkan, Ubahlah, Berilah contoh, dan Berikan interpretasi.

Pertanyaan penerapan (aplikasi), Pertanyaan penerapan adalah pertanyaan pertanyaan yang menuntut suatu jawaban dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Siswa dihadapkan pada pemecahan masalah sederhana dengan menggunakan pengetahuan yang telah dipelajarinya. Dengan menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau proses yang dipelajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan suatu jawaban yang benar terhadap masalah itu. Beberapa kata yang sering digunakan untuk pertanyaan penerapan adalah: Gunakanlah, Tunjukkanlah, Demonstrasikan, Buatlah sesuatu, Carilah hubungan, Tuliskan suatu contoh, Siapkanlah, dan Klasifikasikanlah.

Pertanyaan analisis, merupakan pertanyaan ini merupakan jenjang pertama dari kelompok pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan analisis menuntut siswa untuk berpikir secara mendalam, kritis, bahkan menciptakan sesuatu yang baru, untuk menjawab pertanyaan analisis, siswa harus mampu menguraikan sebab-sebab, motif-motif atau mengadakan deduksi (dari suatu generalisasi/kesimpulan umum/hukum/teori, dicari fakta-faktanya). Oleh karena itu, pertanyaan analisis tidak hanya mempunyai satu jawaban yang benar, melainkan berbagai alternatif. Pertanyaan analisis menuntut siswa terlibat dalam proses kognitif sebagai berikut:

Menguraikan alasan atau sebab-sebab dari suatu kejadian, Mempertimbangkan dan menganalisis inforamsi yang tersedia agar mencapai suatu kesimpulan atau generalisasi berdasarkan informasi, Menganalisis kesimpulan atau generalisasi untuk menemukan bukti yang menunjang atau menyangkal kesimpulan/generalisasi itu. Kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan analisis adalah: Analisislah, Kemukakan bukti-bukti, Mengapa, Identifikasikan, Tunjukkanlah sebabnya, dan Berilah alasan-alasan.

Pertanyaan sintesis, pertanyaan ini merupakan pertanyaan tingkat tinggi yang menuntut siswa untuk berpikir orisinil dan kreatif. Dengan pertanyaan ini akan diperoleh kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian atau unsur-unsur agar dapat menjadi suatu kesatuan. Mereka dituntut untuk dapat mengambil suatu kesimpulan dari informasi yang telah diberikan. Siswa tidak hanya menerka jawaban, melainkan harus berpikir dengan sungguh-sungguh. Berikut ini adalah kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan-pertanyaan sintesis: Ramalkanlah, Bentuk, Ciptakanlah, Susunlah, Rancanglah, Tulislah, Bagaimana kita dapat memecahkan, Apa yang terjadi seaindainya, Bagaimana kita dapat memperbaiki, dan Kembangkan.

Pertanyaan evaluasi, merupakan pertanyaan yang menuntut proses berpikir paling tinggi dan untuk dapat menyatakan pendapat atau menilai berbagai ide, karya seni, pemecahan masalah serta alasan-alasan keputusannya, harus digunakan kriteria-kriteria tertentu. Pertanyaan evaluasi dapat dikategorikan sebagai berikut:

pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat tentang berbagai persoalan

pertanyaan yang menilai suatu ide, pertanyaan yang meminta siswa menetapkan suatu cara pemecahan masalah, pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya seni terbaik.

Pertanyaan berdasarkan maksudnya menurut Hutasoit (2010), dapat dibedakan seperti dibawah ini :

Pertanyaan permintaan ( compliance question) adalah pertanyaan yang mengharapkan peserta didik mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pernyataan.

Pertanyaan retoris (rhetorical question) adalah pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru, dengan maksud hanya menyampaikan informasi kepada peserta didiknya.

Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) adalah pertanyaan yang bermaksud memberi arah atau menuntun seseorang sehingga dapat menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. Pertanyaan ini diperlukan jika seseorang peserta mengharapkan orang lain memperhatikan dengan seksama bagian-bagian tertentu atau pokok inti dari bahan yang disajikannya.

Pertanyaan menggali (probing question) adalah pertanyaan lanjutan yang dapat mendorong seseorang untuk lebih mendalami jawaban atas pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Jenis pertanyaan ini dimaksudkan untuk mendorong penjawab meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang diberikan.

Pertanyaan berdasarkan tujuannya menurut Wartono (2003:), pertanyaan berdasarkan maksudnya terdiri atas:

Pertanyaan Kognitif, Pertanyaan kognitif adalah pertanyaan yang dilakukan bertujuan untuk menguji pengetahuan, pemahaman, dan pendapat orang lain tentang materi pelajaran. Contohnya dalam ilmu fisika: “ Apa yang dimaksud dengan tekanan?”

Pertanyaan Performansi, Pertanyaan performansi adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan agar orang lain melakukan penampilan/performansi sesuai dengan yang dianjurkan penanya. Contonya: “ Bisakah Kamu mengerjakan soal itu di papan tulis?”.

Pertanyaan Konsekuensi, Pertanyaan konsekuensi adalah adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan agar siswa menjelaskan atau memberikan alasan terhadap tindakan ataupun pendapat yang telah dikemukakan. Contohnya: “Apa yang terjadi ketika tembaga dan kayu didekatkan pada sebuah magnet? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?”

Pertanyaan Eksplorasi, Prtanyaan eksplorasi adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan untuk menjajagi sejauh mana pengetahuan dan pengalaman orang tersebut sebelum ia menempuh pelajaran baru. Contonya: setelah dijelaskan tentang besaran dan satuan, kemudian memberikan pertanyaan “Kecepatan dan usaha termasuk besaran apa?”.

Menurut Wartono (2003), pertanyaan berdasarkan caranya terdiri atas:

Pertanyaan Mengarahkan, Pertanyaan mengarahkan adalah pertanyaan yang diberikan untuk menuntun seseorang dalam proses berpikir, sehingga dia dapat menemukan inti permasalahannya. Contohnya: ketika diterangkan tentang sifat-sifat bayangan pada cermin datar, maka ada perintah untuk menggambar bayangan benda di depan cermin datar berdasarkan hukum pemantulan pada cermin datar.

Pertanyaan menggali adalah pertanyaan lanjutan yang mendorong untuk lebih mendalami maksud dari pertanyaan yang diajukan sebelumnya, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanyaan sebelumnya.

Pertanyaan memancing adalah pertanyaan yang bertujuan untuk memancing ide-ide secara original, sehingga seseorang dapat memberikan jawaban secara tepat, jujur, benar, tidak malu, dan takut menjawabnya.

Sikap antusias dan hangat yang terjadi pada kegiatan belajar dapat memberikan arti dalam meningkatkan partisipasi siswa. Dan guru terus memberikan arahan lain ketika pertanyaan tersebut tidak sesuai akan membantu siswa lebih untuk bertanya (Wartono, 2003).

Faktor yang mempengaruhi Keterampilan Bertanya Siswa

1. Faktor dalam diri siswa

Minat siswa dalam bertanya, besar pengaruhnya terhadap berbagai aktivitas. Siswa yang berminat terhadap suatu pelajaran, akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang menarik minatnya. Tinggi rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan, ini erat kaitannya pula dengan tinggi rendahnya kesadaran diri terhadap pemenuhan rasa ingin tahu / kebutuhan akan informasi, yang salah satunya dengan mengajukan pertanyaan.

Memiliki perasaan tidak / kurang berani dalam bertanya, perasaan kurang berani (perasaan takut) adalah sejenis naluri. Kebanyakan perasaan takut itu disebabkan karena pengaruh lingkungan. Takut salah, takut mendapat ejekan. Perasaan takut yang ada pada siswa, akan melemahkan semangatnya dan akan menggoyahkan ketenangannya. Ia tidak berani mengajukan pertanyaan, karena diliputi perasaan takut, seperti takut salah, takut mengungkapkan pendapat dan karena ketakutan lainnya. Sehingga apa yang ingin ditanyakan tidak dapat diutarakannya.

Motif keingintahuan siswa, ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau seperti yang dikatakan oleh Sartain dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior yang dikutip oleh M. Ngalim Purwanto, “Motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku / perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Motif keingintahuan siswa yang besar pada suatu pelajaran, akan dapat dilihat pada semangatnya mengikuti pelajaran. Salah satunya yang dapat dilihat ialah kebiasaannya mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan. Dengan motif keingintahuannya yang besar segala aktivitas belajar demi mencapai prestasi dan cita-citanya akan dijalaninya dengan penuh kegigihan.

2. Faktor Dari Luar Diri Siswa

a. Faktor Guru (motivasi dari guru)

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada siswanya di sekolah, maka gurulah yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar siswanya. Sebagai pendidik guru tidak hanya berperan untuk mendorong meningkatkan prestasi belajar siswa, tetapi juga yang lebih jauh lagi untuk memotivasi siswa agar lebih aktif, bergairah belajar dan menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. Selaku motivator, guru harus selalu member semangat agar motif-motif yang positif pada siswanya dapat dibangkitkan, ditingkatkan dan dikembangkan.

Guru harus memotivasi siswanya agar terbiasa bertanya, karena hal itu penting bagi perkembangan kepribadian dan penambah pengetahuan. Dan sebagai orang yang menginginkan keberhasilan dalam mengajar, guru harus selalu mempertahankan agar umpan balik selalu berlangsung dalam diri siswanya. Umpan balik itu tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk sikap mental yang selalu berproses untuk menyerap bahan pelajaran yang diberikan. Bertanya adalah salah satu umpan balik yang diberikan siswa pada guru.

Guru yang hanya mengajar dan tanpa memperhatikan mengerti tidaknya siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan, akan mendapat reaksi negatif dari siswa. Siswa cenderung menunjukkan sikap acuh tak acuh atas apa yang disampaikan, ia juga bisa melakukan kegiatan lain yang terlepas dari masalah pelajaran.

b. Faktor Lingkungan, seperti suasana belajar

Suasana belajar yang menyenangkan akan mempengaruhi semangat dan suasana hati siswa. Siswa yang memiliki semangat untuk belajar dan memiliki suasana hati yang menyenangkan, ia akan mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan tidak akan sungkan-sungkan mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasannya.

Penerapan “Questions Stars” yang dimulai dengan memberi motiovasi siswa untuk bertanya aktif pada kegiatan pembelajaran, membimbing siswa dalam bertanya pada tahapan pertanyaan dari yang sederhana misal dengan kata kunci apa (what) ,dimana (where), kapan (when), siapa (who), mengapa (why) menjadi pertanyaan tingkat tingkat tinggi analisis sintesis dan evaluasi salah satunya denga kata kunci bagaimana (who) dikenal pada kalangan siswa dengan 5W dan 1H. Pada masing-masing siswa yang berani bertanya akan mendapat nilai kuantitatif melalui sarana bintang yang akan diberikan. Maka penerapan “Questions Stars” dapat mengakibatkan perubahan positip nampak pada setiap akhir pembelajaran siswa yang mendapatkan bintang bertanya, akan terus meningkat, setelah terjadi kenaikan frekuensi bertanya selanjutnya bintang bertanya akan debedakan untuk pertanyaan sederhana sampai pertanyaan tingkat tinggi. Harapan peningkatan frekuensi bertanya pada proses pembelajaran dan terjadi peningkatan kualitas keterampilan bertanya siswa pada pertanyaan tingkat tinggi akan terjadi melalui penerapan “Questions Stars”.

Kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan frekuensi pertanyaan dan terjadinya peningkatan kualitas pertanyaan melalui penerapan “Questions Stars” dikarenakan “Questions Stars” dapat memotivasi siswa secara intrinsik yang mana guru memberikan motivasi siswa untuk bertanya karena hal itu penting bagi perkembangan kepribadian dan menanbah pengetahuan dengan cara memberi umpan balik dalam bentuk fisik, maupun mental. dan memotivasi siswa secara ektrinsik untuk mau bertanya dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, menciptakan kompetisi yang sehat akan mempengaruhi semanagt dan suasana hati siswa yang akan berdampak pada keikutsertaan dalam pembelajaran dengan penuh perhatian serta tidak sungkan untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan, meningkatkan frekuensi pertanyaan dalam proses belajar yang diharapkan diharapkan akan berdampak pada kebiaasaan bertanya dan terjadinya peningkatan kualitas pertanyaan, meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya diharapkan hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan peningkatan proses pembelajaran dapat teratasi.

B. Langkah-langkah Pemecahan Masalah

Untuk mengatasi masalah diatas dipergunakan penerapan “Questions Stars” dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Perencanaan

a. Menentukan data awal berdasarkan hasil pembelajran sebelumnya

b. Melakukan analisis KI/KD

c. Mengembangkan RPP

d. Mengembangkan LKS, Materi Ajar.

e. Menyiapkan reward dalam bentuk bintang yang terbuat dari kertas

f. Mengembangkan instrumen atau angket respon siswa terhadap penerapan “Questions Stars”

g. Menyiapkan instrumen penilaian sikap dan pengetahuan, keterampilan

h. Menyiapkan alat dokumentasi

2. Pelaksanaan

a. Pertemuan PBM 1

Dilaksanakan pada : Oktober 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Klasifikasi Benda

b. Pertemuan PBM 2

Dilaksanakan pada : Oktober 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Klasifikasi Materi

c. Pertemuan PBM 3

Dilaksanakan pada : Nopember 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Klasifikasi, Dikotomi dan Kunci Determinasi

d. Pertemuan PBM 4

Dilaksanakan pada : Nopember 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Kelompok Makhluk Hidup Berukuran Kecil

e. Pertemuan PBM 5

Dilaksanakan pada : Desember 2014

Alokasi Waktu : 3 JP

RPP pada Materi : Kelompok Hewan

C. Alat dan Instrumen yang digunakan

1. Bintang yang terbuat dari kertas

2. Instrumen atau angket respon siswa terhadap penerapan ““Questions Stars””

3. Instrumen penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan

4. Alat dokumentasi

D. Tempat dan Waktu serta Lembaga yang Mendukung

1. Tempat :

SMPN 6 Mataram

2. Waktu :

a. Persiapan dimulai bulan September 2014

b. Pelaksanaan dimulai Oktober sampai Desember 2014

3. Lembaga yang Mendukung :

a. SMPN 6 Mataram

b. Dinas Dikpora Kota Mataram

c. LPMP Provinsi NTB

E. Indikator Kinerja

1. Untuk frekuensi bertanya dikatakan mengalami peningkatan apabila sebanyak 50% dari jumlah siswa, menyampaikan pertanyaan.

2. Untuk kualitas keterampilan bertanya siswa dikatakan berhasil apabila dari jumlah siswa yang bertanya, 50% siswa menegemukakan pertanyaan tingkat lanjut.

F. Hasil atau Dampak yang dicapai

Peningkatan frekuensi bertanya siswa pada proses pembelajaran pertama, kedua hingga ke 5, terjadi peningkatan yang dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

 

Last Updated on Tuesday, 30 December 2014 03:13
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 56
© 20011BALAI TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN |BTKP@goV
.... KUIS KIHAJAR TK NASIONAL TGL 6-9 NOVEMBER DI JAKARTA ....
.:[Close]2x:.